JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah hasil samping pengolahan bijih nikel menjadi serbuk paduan besi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri manufaktur.
Teknologi tersebut memanfaatkan lumpur padat hasil proses hidrometalurgi nikel yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, BRIN menggunakan biomassa cangkang sawit sebagai bahan pereduksi sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nur Ikhwani, mengatakan inovasi tersebut berawal dari audit teknologi pada industri pengolahan nikel yang dilakukan pada 2019-2020.
Baca juga: Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Hasil audit menunjukkan limbah padat hasil pengolahan nikel mengandung besi sekitar 40 persen sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.
"Kami mengaudit teknologi proses mereka dan menemukan bahwa limbah hasil pengolahan nikel memiliki kemiripan dengan material laterit yang sebagian besar mengandung besi hingga sekitar 40 persen," ujar Nur, dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (29/7/2026).
Menurut dia, setiap satu ton bijih nikel yang diproses dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton lumpur padat.
Selama ini limbah tersebut sebagian besar belum dimanfaatkan, padahal masih mengandung mineral hematit yang dapat diolah menjadi sumber bahan baku besi.
Dalam teknologi yang dikembangkan BRIN, lumpur nikel diproses menggunakan arang cangkang sawit sebagai bahan pereduksi.
Pendekatan tersebut menghasilkan serbuk paduan besi berukuran sekitar 50 mikron yang siap dimanfaatkan untuk industri powder metallurgy, material paduan besi-baja, maupun media shot blasting.
Selain menghasilkan produk bernilai tambah, penggunaan biomassa juga menurunkan suhu proses reduksi dari sekitar 1.380 derajat Celsius menjadi 1.200 derajat Celsius.
Penurunan suhu tersebut membuat kebutuhan energi dan biaya produksi menjadi lebih rendah dibandingkan proses konvensional.
"Inovasi ini memanfaatkan lumpur hasil samping hidrometalurgi nikel dan biomassa limbah sawit menjadi produk bernilai tinggi. Penggunaan biomassa sebagai reduktor juga mendukung pengembangan green product dan ekonomi sirkular," kata Nur.
Berbeda dengan proses konvensional yang menghasilkan sponge iron atau pig iron, teknologi BRIN menghasilkan serbuk paduan besi secara langsung sehingga lebih sesuai untuk kebutuhan industri material maju dan manufaktur berbasis serbuk.
Baca juga: Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial
Selain meningkatkan nilai tambah limbah industri, teknologi tersebut juga dinilai berpotensi mengurangi akumulasi limbah pengolahan nikel, menekan penggunaan batu bara sebagai bahan pereduksi, serta mendukung penurunan emisi gas rumah kaca.
BRIN selanjutnya akan mengembangkan teknologi untuk menurunkan kadar sulfur pada produk agar memenuhi spesifikasi industri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya