Pengembangan tersebut akan dilakukan melalui kombinasi proses fisik dan pendekatan berbasis bakteri.
Nur berharap teknologi itu dapat segera memasuki tahap komersialisasi melalui kemitraan dengan industri powder metallurgy, shot blasting, dan manufaktur logam.
Menurut dia, kolaborasi dengan industri diperlukan untuk uji aplikasi, validasi performa, hingga pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi teknologi dan menghasilkan material maju berbasis sumber daya sekunder yang memiliki daya saing tinggi," ujarnya.
Sebelumnya, Head of Sustainability Nickel Industries Limited Muchtaza mengingatkan bahwa kandungan nikel dalam bijih hanya sekitar 1-2 persen, sedangkan sebagian besar material yang ditambang akan menjadi residu atau limbah.
Menurut dia, pemanfaatan limbah tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi jejak karbon dari industri nikel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya