Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem

Kompas.com, 7 Agustus 2026, 16:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Kupu-kupu sering dianggap sebagai indikator perubahan alam. Dan kini sebuah penelitian global menemukan di berbagai belahan dunia, spesies ini mulai berpindah tempat.

Mereka terpaksa berpindah agar bisa bertahan hidup seiring meningkatnya suhu bumi yang mengubah lingkungan mereka.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution, sekitar satu dari 10 spesies kupu-kupu telah mengalami perluasan atau penyempitan wilayah hidup, atau berpindah ke tempat yang lebih tinggi.

Dr. Shawan Chowdhury, ketua Global Change Ecology Lab di Monash University sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa penelitian yang menganalisis perubahan pada 1.758 spesies di 105 negara ini menunjukkan skala perubahan yang sangat mengejutkan. Perubahan ini utamanya dipicu oleh krisis iklim dan cuaca ekstrem.

"Kupu-kupu adalah sinyal peringatan dini bagi seluruh planet. Jika wilayah jelajah mereka berubah sespesifik dan sedramatis ini, itu menandakan adanya perubahan besar pada ekosistem kita," ujarnya dikutip dari Guardian, Rabu (5/8/2026).

Baca juga: Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu

Perpindahan yang signifikan

Dari seluruh kupu-kupu yang berpindah, sekitar 80 persen di antaranya memperluas wilayah hidup mereka, biasanya dengan berpindah ke daerah-daerah baru yang suhunya menjadi cocok akibat pemanasan global.

Beberapa jenis kupu-kupu berpindah dengan sangat cepat. Sebagai contoh, kupu-kupu tawny coster yang aslinya berasal dari India, Bangladesh, dan Sri Lanka mulai masuk ke Australia pada tahun 2012 dan terus berpindah sejauh 135 kilometer setiap tahunnya.

Namun, perpindahan wilayah ini belum tentu berita baik, terutama jika mereka terpaksa pindah ke tempat yang kurang cocok dengan jumlah populasi yang sedikit.

Sementara itu sekitar 27 persen spesies kupu-kupu termasuk Cupido minimus, jenis kupu-kupu terkecil di Inggris wilayah hidupnya justru semakin menyempit dan menghilang dari daerah yang dulu biasa mereka tinggali. Jenis lainnya memilih berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Perluasan wilayah hidup ini terjadi di seluruh benua, terutama di wilayah tropis. Sementara itu, penyempitan wilayah hidup sebagian besar terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Untuk perpindahan ke tempat yang lebih tinggi, hampir seluruhnya terjadi di belahan bumi utara.

Faktor penyebab perpindahan

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi penyebab utama pergeseran ini, meski ada juga faktor lain seperti hilangnya tempat tinggal alami dan pembukaan lahan pertanian.

Di Jerman, spesies kupu-kupu cranberry fritillary kehilangan sebagian besar habitat aslinya akibat pengeringan lahan basah. Di Rumania, perluasan lahan pertanian menyebabkan wilayah hidup kupu-kupu Danube clouded yellow makin menyempit. Sementara di Brasil, kupu-kupu biru Godartiana byses justru makin meluas dari wilayah Rio de Janeiro dan Bahia hingga ke São Paulo karena suhu yang makin hangat.

Beberapa jenis kupu-kupu mengalami perluasan wilayah di satu daerah, tetapi wilayahnya justru menyempit di daerah lain. Menurut Chowdhury, kondisi ini cukup mengkhawatirkan.

"Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi pada spesies tersebut dalam jangka panjang. Apakah mereka akan terancam punah atau justru bisa bertahan hidup," katanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau