KOMPAS.com - PBB memperingatkan bahwa meski jumlah ibu yang menyusui di seluruh dunia terus meningkat. Akan tetapi jutaan ibu dan keluarga masih kekurangan bantuan serta perlindungan yang dibutuhkan untuk memberi makan bayi mereka secara aman.
Melansir laman resmi United Nations, Senin (3/8/2026) Lembaga anak PBB (UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa fasilitas kesehatan, tempat kerja, dan masyarakat harus memberi dukungan lebih bagi para ibu dan bayi baru lahir.
Mereka mendesak adanya pendampingan yang lebih baik, perlindungan hak cuti melahirkan, serta aturan yang lebih ketat terhadap pemasaran susu formula pengganti ASI.
Peringatan ini disampaikan bersamaan dengan peringatan Pekan Menyusui Sedunia yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 7 Agustus, dengan tema "Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Sudah Berjalan".
Menyusui adalah salah satu cara paling sederhana dan paling ampuh untuk melindungi kesehatan anak. Menyusui memberikan nutrisi penting bagi bayi dan balita, meningkatkan daya tahan tubuh, melindungi dari penyakit serius, serta mendukung perkembangan otak anak.
Baca juga: Cegah Anemia pada Ibu dan Anak, Nutrisi Berbasis Sains dan Skrining Dini Jadi Andalan
Para ibu juga mendapatkan manfaatnya. Menyusui membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular, seperti kanker payudara, kanker ovarium, dan diabetes tipe 2.
"Menyusui itu sangat penting," kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.
"Dengan berinvestasi pada solusi yang sudah terbukti ini, kita bisa memberikan awal kehidupan terbaik bagi setiap anak dan memastikan setiap ibu mendapatkan perawatan serta layanan yang mereka butuhkan," katanya lagi.
PBB menyatakan bahwa meningkatkan angka menyusui dapat mencegah hampir 400.000 kematian anak dan sekitar 140.000 kematian ibu setiap tahunnya.
WHO dan UNICEF sejak lama merekomendasikan agar proses menyusui dimulai dalam satu jam pertama setelah bayi lahir (IMD), bayi diberi ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain selama enam bulan pertama, dan menyusui dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih, didampingi dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang aman dan bergizi mulai usia enam bulan.
Praktik-praktik ini sangat penting untuk membesarkan bayi yang sehat, bahkan dalam kondisi krisis seperti perang di Sudan.
"ASI sangat penting karena merupakan sumber makanan dan minuman yang bersih, aman, dan selalu siap tersedia untuk bayi. Selain itu, ASI juga bertindak sebagai sistem kekebalan tubuh alami bagi mereka," kata Rawan, seorang asisten nutrisi dari Program Pangan Dunia PBB (WFP) yang bertugas di lapangan.
Secara global, sudah ada kemajuan nyata. Jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif pada enam bulan pertama meningkat dari sekitar 37 persen pada tahun 2012 menjadi lebih dari 47 persen saat ini. Selain itu, jumlah ibu yang terus menyusui hingga anak berusia dua tahun juga naik, dari 38 persen menjadi 50 persen.
Namun, kemajuan ini masih dinilai terlalu lambat, dan banyak negara yang masih tertinggal dari target dunia.
Baca juga: Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
"Jangkauan layanan yang mendukung ibu menyusui masih rendah, aturan hukumnya belum diterapkan secara konsisten, dan kualitas layanannya sering kali belum memadai terutama di negara-negara berpenghasilan rendah, wilayah rentan, dan daerah konflik atau krisis kemanusiaan," papar Russell.
Pada Pekan Menyusui Sedunia kali ini, UNICEF dan WHO mengajak setiap negara untuk memperkuat sistem kesehatan mereka agar para ibu dan bayi baru lahir mendapatkan bantuan menyusui yang berkualitas baik sebelum, saat, maupun setelah melahirkan.
Masing-masing pemerintah juga didesak untuk memperluas layanan konseling di masyarakat, menyediakan cuti melahirkan berbayar serta perlindungan di tempat kerja, menegakkan aturan internasional yang membatasi promosi susu formula, dan memastikan bantuan menyusui tetap ada dalam situasi darurat maupun bencana.
Para pimpinan lembaga PBB ini menegaskan bahwa langkah ini sangat menguntungkan secara ekonomi. Setiap 1 dolar yang diinvestasikan untuk mendukung menyusui diperkirakan akan memberikan hasil senilai 59 dolar.
Keuntungan ini didapat dari penghematan biaya berobat, peningkatan kecerdasan anak, pendidikan yang lebih baik, hingga penghasilan yang lebih tinggi saat mereka dewasa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya