Para penulis studi menegaskan bahwa model prediksi iklim saat ini kemungkinan menganggap remeh dampak kenaikan suhu terhadap senyawa karbon terlarut. Akibatnya, kemampuan sebenarnya dari ekosistem pesisir dalam mengunci karbon di masa depan bisa jadi lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya.
Di saat yang sama, para peneliti juga menjelaskan keterbatasan penelitian mereka. Eksperimen ini masih dilakukan di laboratorium dengan kondisi terkontrol, sehingga hanya memberikan gambaran sederhana dari wilayah pesisir yang asli.
Faktor alam seperti arus deras, badai, atau perubahan jenis tumbuhan dalam jangka panjang belum bisa dihitung secara penuh. Penelitian lapangan selanjutnya akan menguji apakah temuan ini juga berlaku sama di alam bebas.
"Kita sekarang membutuhkan pengamatan jangka panjang langsung di wilayah pesisir alami untuk menilai seberapa besar dampak pemanasan laut terhadap penyimpanan karbon yang sebenarnya," tambah Hauke Reuter dari Kelompok Riset ZMT
"Data tersebut sangat penting agar ekosistem pesisir dapat dimasukkan secara lebih akurat ke dalam strategi penanganan iklim di masa depan," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya