Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 11:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Implementasi program mandatori B50 yang berlangsung sejak 1 Juli 2026 perlu ditinjau ulang ketersediaan pasokan bahan baku minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

‎Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas Haryo Pamungkas mengatakan, industri kelapa sawit di Indonesia menghadapi tantangan ganda yang serius. Yaitu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta fenomena iklim El Niño yang bersamaan dengan musim kemarau.

‎Situasi tersebut menganggu stabilitas produksi kelapa sawit nasional, yang pada gilirannya berisiko mengancam keberlangsungan program mandatori B50.

‎"Ditinjau kembali ketercukupannya, jangan sampai dipaksakan sehingga keseimbangan supply dan demand-nya bergeser lagi. Dampaknya bisa kemana-mana. Turunnya ekspor, kelangkaan minyak goreng ataupun ketiadaan bahan baku untuk industri hilir," ujar Dimas kepada Kompas.com, Minggu (23/8/2026).

‎Luas area perkebunan kelapa sawit yang terbakar harus dihitung secara mendetail untuk memetakan dampak karhutla terhadap produksi CPO nasional. Jika dampak karhutla terhadap perkebunan kelapa sawit signifikan, maka kemungkinan produksi CPO nasional berkurang drastis.

‎Selain itu, dalam hal menjaga pasokan CPO nasional untuk program B50, dampak fenomena El Niño terhadap perkebunan kelapa sawit sebenarnya lebih mengkhawatirkan. 

‎Kalau kebakaran hanya berdampak pada lahan yang terpapar api, El Niño berdampak pada seluruh area perkebunan melalui penurunan intensitas hujan.

Kekeringan panjang menyebabkan penurunan jumlah Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen. Berdasarkan perhitungan IPOSS, pengurangan produksi diprediksi mulai terasa pada sisa bulan terakhir tahun 2026 dan akan berlanjut sepanjang tahun 2027. ‎

‎"Ini mulai terasa nih pengurangan produksi. Karena kan terjadi penurunan jumlah tandan ya. Nah, karena ini kan disinyalir memang hari tidak hujan atau kemarau ini itu cukup panjang. Memang akan ada hujan tetapi jumlah hujannya itu akan di bawah normal ya. Kalau kita biasanya bertubi-tubi hujan gitu ya, tapi ini mungkin hujan juga, tapi berkurang intensitasnya," tutur Dimas.

‎Belajar dari karhutla tahun 2015

‎Berkaca dari karhutla plus El Niño pada 2015, dampak kekeringan ekstrem biasanya tidak langsung muncul di tahun yang sama. Penurunan produksi CPO yang sangat tajam justru baru dirasakan pada tahun 2016.

‎Ia memperkirakan situasi saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan pola tahun 2015, di mana kemarau panjang disertai karhutla mulai terjadi. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah prediksi bahwa El Niño kali ini bisa bertahan hingga pertengahan tahun 2027.

Dengan kondisi baru berjalan satu setengah bulan tanpa hujan saja, titik api sudah banyak bermunculan, sehingga masa depan produksi CPO nasional hingga pertengahan 2027 berada dalam risiko besar.

‎"Tahun 2015 itu saja kami enggak punya data pasti ya berapa yang kena, tetapi memang produksi turun banyak ya. Di 2016 yang terasa turun banyak. Iya, jadi bukan 2015 tapi 2016-nya setahun berikutnya. Nah ini juga kalau El Niño-nya ini benar-benar panjang, prediksinya kan El Niño ini sampai pertengahan 2027 ya. Kami bisa membayangkan nih baru satu setengah bulan saja, enggak hujan, sudah terjadi kebakaran," ucapnya.

Tingkatkan kapasitas kilang pengelolaan 

‎Sebelumnya, Dimas mengatakan, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas kilang pengolahan biodiesel dari 22 juta kiloliter per tahun, menjadi 26 juta kiloliter per tahun untuk bisa mengejar target mandatori B50 yang diberlakukan pemerintah mulai 1 Juli 2026.

Perhitungan potensi produksi biodiesel nasional harus 80 persen dari total kapasitas refinery terpasang untuk mempertimbangkan sesi maintaince atau pemeliharaan secara terjadwal.‎

‎Perubahan mandatori dari B40 ke B50 akan meningkatkan persentase campuran biodiesel ke dalam solar kebutuhkan 15 juta kiloliter untuk tahun ini dan akan naik 20 juta kiloliter pada 2027. 

‎"Kalau tadi kebutuhan 20 juta dengan kapasitas pabrik masih 21-22 juta ini, ini ngepas banget. Artinya, memang semua biodiesel enggak akan ada istirahatnya untuk terus-menerus produksi," ujar Dimas dalam media briefing di Bogor, Rabu (10/6/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau