KOMPAS.com - Implementasi program mandatori B50 yang berlangsung sejak 1 Juli 2026 perlu ditinjau ulang ketersediaan pasokan bahan baku minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas Haryo Pamungkas mengatakan, industri kelapa sawit di Indonesia menghadapi tantangan ganda yang serius. Yaitu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta fenomena iklim El Niño yang bersamaan dengan musim kemarau.
Situasi tersebut menganggu stabilitas produksi kelapa sawit nasional, yang pada gilirannya berisiko mengancam keberlangsungan program mandatori B50.
"Ditinjau kembali ketercukupannya, jangan sampai dipaksakan sehingga keseimbangan supply dan demand-nya bergeser lagi. Dampaknya bisa kemana-mana. Turunnya ekspor, kelangkaan minyak goreng ataupun ketiadaan bahan baku untuk industri hilir," ujar Dimas kepada Kompas.com, Minggu (23/8/2026).
Luas area perkebunan kelapa sawit yang terbakar harus dihitung secara mendetail untuk memetakan dampak karhutla terhadap produksi CPO nasional. Jika dampak karhutla terhadap perkebunan kelapa sawit signifikan, maka kemungkinan produksi CPO nasional berkurang drastis.
Selain itu, dalam hal menjaga pasokan CPO nasional untuk program B50, dampak fenomena El Niño terhadap perkebunan kelapa sawit sebenarnya lebih mengkhawatirkan.
Kalau kebakaran hanya berdampak pada lahan yang terpapar api, El Niño berdampak pada seluruh area perkebunan melalui penurunan intensitas hujan.
Kekeringan panjang menyebabkan penurunan jumlah Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen. Berdasarkan perhitungan IPOSS, pengurangan produksi diprediksi mulai terasa pada sisa bulan terakhir tahun 2026 dan akan berlanjut sepanjang tahun 2027.
"Ini mulai terasa nih pengurangan produksi. Karena kan terjadi penurunan jumlah tandan ya. Nah, karena ini kan disinyalir memang hari tidak hujan atau kemarau ini itu cukup panjang. Memang akan ada hujan tetapi jumlah hujannya itu akan di bawah normal ya. Kalau kita biasanya bertubi-tubi hujan gitu ya, tapi ini mungkin hujan juga, tapi berkurang intensitasnya," tutur Dimas.
Berkaca dari karhutla plus El Niño pada 2015, dampak kekeringan ekstrem biasanya tidak langsung muncul di tahun yang sama. Penurunan produksi CPO yang sangat tajam justru baru dirasakan pada tahun 2016.
Ia memperkirakan situasi saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan pola tahun 2015, di mana kemarau panjang disertai karhutla mulai terjadi. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah prediksi bahwa El Niño kali ini bisa bertahan hingga pertengahan tahun 2027.
Dengan kondisi baru berjalan satu setengah bulan tanpa hujan saja, titik api sudah banyak bermunculan, sehingga masa depan produksi CPO nasional hingga pertengahan 2027 berada dalam risiko besar.
"Tahun 2015 itu saja kami enggak punya data pasti ya berapa yang kena, tetapi memang produksi turun banyak ya. Di 2016 yang terasa turun banyak. Iya, jadi bukan 2015 tapi 2016-nya setahun berikutnya. Nah ini juga kalau El Niño-nya ini benar-benar panjang, prediksinya kan El Niño ini sampai pertengahan 2027 ya. Kami bisa membayangkan nih baru satu setengah bulan saja, enggak hujan, sudah terjadi kebakaran," ucapnya.
Tingkatkan kapasitas kilang pengelolaan
Sebelumnya, Dimas mengatakan, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas kilang pengolahan biodiesel dari 22 juta kiloliter per tahun, menjadi 26 juta kiloliter per tahun untuk bisa mengejar target mandatori B50 yang diberlakukan pemerintah mulai 1 Juli 2026.
Perhitungan potensi produksi biodiesel nasional harus 80 persen dari total kapasitas refinery terpasang untuk mempertimbangkan sesi maintaince atau pemeliharaan secara terjadwal.
Perubahan mandatori dari B40 ke B50 akan meningkatkan persentase campuran biodiesel ke dalam solar kebutuhkan 15 juta kiloliter untuk tahun ini dan akan naik 20 juta kiloliter pada 2027.
"Kalau tadi kebutuhan 20 juta dengan kapasitas pabrik masih 21-22 juta ini, ini ngepas banget. Artinya, memang semua biodiesel enggak akan ada istirahatnya untuk terus-menerus produksi," ujar Dimas dalam media briefing di Bogor, Rabu (10/6/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya