KOMPAS.com - Penelitian baru dari Universitas Copenhagen di Denmark mengungkapkan hanya sedikit tempat kerja yang benar-benar siap untuk menyajikan makanan berbasis nabati.
Padahal, melansir Phys, Rabu (26/8/2026) langkah untuk mengganti hidangan berbahan daging dan menyediakan makanan berbasis nabati di kantor ini punya potensi besar untuk mengurangi jejak karbon dari makan siang kantor.
Kesimpulan tersebut diambil setelah peneliti melakukan studi terhadap tempat kerja di Denmark. Temuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal npj Climate Action.
Bekerja sama dengan Jespers Torvekøkken, sebuah perusahaan katering kantin, para peneliti mengamati kesiapan perubahan di 62 tempat kerja di Wilayah Ibu Kota Denmark.
Mereka melihat bagaimana tingkat kesiapan tersebut memengaruhi jejak karbon dari makanan yang disajikan saat makan siang.
“Kami menemukan bahwa hanya 13 persen tempat kerja yang siap mengalihkan makan siang mereka ke menu berbasis nabati, sementara 42 persen menolak perubahan tersebut. Sisanya, sebanyak 45 persen tempat kerja, menunjukkan tingkat kesiapan yang berbeda-beda,” ujar Thomas Bøker Lund, penulis utama studi sekaligus profesor di Universitas Copenhagen.
Baca juga: Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan Turnover Karyawan
“Kami juga melihat hubungan yang kuat antara kesiapan tempat kerja dengan jenis makanan yang dikonsumsi karyawan. Misalnya saja, makanan tradisional Denmark berbahan dasar daging sangat mendominasi di tempat kerja yang menolak perubahan. Sebaliknya, menu daging lebih jarang ditemukan di perusahaan yang lebih siap berubah,” jelas Mette Weinreich Hansen, rekan penulis studi tersebut.
Perbedaan sikap ini terlihat langsung dari jejak karbon makanan yang disajikan. Tempat kerja yang lebih siap beralih ke menu nabati menghasilkan jejak karbon 28 persen lebih rendah dibanding tempat kerja yang menolak perubahan.
Studi ini juga menemukan bahwa kesiapan untuk berubah berkaitan erat dengan bidang bisnis tempat kerja tersebut serta latar belakang para karyawannya.
Tempat kerja di sektor jasa dan industri berbasis pengetahuan cenderung lebih terbuka dengan makan siang berbasis nabati. Sebaliknya, penolakan lebih sering terjadi di sektor industri manufaktur dan produksi.
“Kebiasaan makan pribadi karyawan juga berpengaruh. Tempat kerja yang karyawannya sudah terbiasa mengonsumsi sedikit daging di rumah cenderung lebih siap berubah. Sebaliknya, penolakan jauh lebih tinggi di tempat kerja yang mayoritas karyawannya adalah pria,” kata Lund.
Studi ini juga menunjukkan bahwa rencana menyajikan lebih banyak makan siang berbasis nabati di kantor bisa memicu emosi yang kuat.
Untuk mendalaminya, para peneliti melanjutkan studi dengan survei terhadap para karyawan di Denmark yang mendapat fasilitas makan siang dari kantor. Hasil temuan ini dirangkum dalam laporan resmi Denmark.
“Survei tingkat nasional ini memberitahu kita bahwa penolakan ternyata sangat meluas. Sebanyak 40 persen karyawan yang mendapat makan siang dari kantor akan merasa terganggu, dan 22 persen bahkan bisa sampai marah. Di saat yang sama, sekitar separuhnya merasa kebebasan mereka dibatasi. Banyak yang merespons spontan dengan mengatakan tidak ada yang boleh mengatur apa yang saya makan,'” kata Lund.
Meski banyak orang menolak diatur soal makanan dan mengaku akan merasa terganggu atau marah, temuan lain dari studi ini justru mempertanyakan seberapa dalam penolakan tersebut sebenarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya