Karena itu, menurut Rachmat, Indonesia perlu memiliki ukuran dan definisi yang jelas mengenai pekerjaan hijau agar kebutuhan tenaga kerja dapat dipetakan sekaligus menjadi acuan bagi dunia usaha dan lembaga pendidikan.
“Kalau kita tidak hati-hati, tidak segera melahirkan green jobs ke depannya, seluruh dunia akan mengalami kesulitan bersama,” ujarnya.
Pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan keterampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang seiring transisi ekonomi hijau.
Nur mengatakan, peta jalan green jobs akan mempertemukan kebutuhan industri dengan sistem pendidikan dan pelatihan. Penyelarasan tersebut diperlukan agar lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan terkait keberlanjutan, tetapi juga keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan.
Kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri menjadi salah satu persoalan yang perlu diatasi. Dengan demikian, pengembangan green jobs tidak hanya berorientasi pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga pada penyiapan tenaga kerja yang mampu mengisi pekerjaan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya