Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun

Kompas.com, 3 September 2026, 15:58 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Hampir separuh petani di seluruh dunia keracunan pestisida setiap tahunnya, menurut sebuah penelitian terbaru.

Dengan menggunakan data publik dari tahun 2006 hingga 2023, studi yang digagas Pesticide Action Network ini menemukan sekitar 402 hingga 433 juta kasus keracunan pestisida akut yang tidak disengaja menimpa petani dan buruh tani setiap tahun.

Melansir Guardian, Rabu (2/9/2026) dengan total populasi petani dunia sebanyak 934 juta orang, ini berarti sekitar 46 persen petani mengalami keracunan setiap tahunnya.

Jumlah kasus keracunan tertinggi diperkirakan terjadi di Asia Selatan, diikuti Asia Tenggara dan Afrika Timur.

Secara nasional, angka keracunan tertinggi terjadi di Burkina Faso, Afrika Barat, di mana hampir 84 persen petani dan buruh taninya dilaporkan pernah mengalami keracunan.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Penghapusan penggunaan pestisida

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Public Health ini juga menemukan bahwa diperkirakan ada 11.000 kematian setiap tahun akibat keracunan pestisida, dengan hampir 60 persen di antaranya terjadi di India.

Jayakumar Chelaton, direktur eksekutif Pesticide Action Network India, menyatakan penelitian ini membuka mata tentang krisis yang tidak boleh lagi diabaikan.

Para penulis studi ini mendesak adanya tindakan segera, termasuk menjalankan rekomendasi PBB untuk menghapus penggunaan pestisida yang sangat berbahaya secara bertahap.

Studi ini menyebutkan bahwa meskipun berbagai upaya global telah dilakukan untuk menyoroti bahayanya, penggunaan pestisida terus meningkat secara konsisten, mencapai 3,8 juta ton pada tahun 2023, naik dua kali lipat dibandingkan tahun 1990.

"Kini setelah besarnya dampak penderitaan ini terungkap, para petani harus dibantu untuk mendapatkan alternatif yang lebih aman guna melindungi kesehatan mereka dan keluarga mereka," ungkap Dr. Sheila Willis, kepala program internasional di Pesticide Action Network UK.

Penelitian ini belum memperhitungkan dampak paparan pestisida pada sekitar 84 juta anak yang bekerja di sektor pertanian, serta belum melihat dampak kesehatan jangka panjang.

Keracunan pestisida akut dalam studi ini didefinisikan sebagai penyakit atau efek kesehatan yang muncul dalam waktu singkat setelah terpapar.

"Kami sangat prihatin dengan dampak kesehatan yang merusak akibat keracunan pestisida, baik dampak jangka pendek yang disebutkan dalam studi ini, maupun paparan jangka panjang yang dialami para pekerja tani dan masyarakat sekitar," ungkap Génon Jensen, direktur eksekutif Health and Environment Alliance.

Dampak terhadap kesehatan petani

Hélène Nicora, direktur jenderal Parkinson’s Europe menambahkan ada bukti sangat kuat yang menunjukkan bahwa penyakit Parkinson dipicu oleh faktor lingkungan, di mana semakin banyak bukti yang menghubungkan paparan pestisida dengan munculnya penyakit ini.

Penyakit Parkinson adalah gangguan saraf berkelanjutan di mana bagian otak mengalami kerusakan seiring waktu, sehingga mengganggu pergerakan dan keseimbangan tubuh.

Baca juga: Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau