Penulis
Sepanjang agenda learning visit di Jepang, para Krisan Fellows berkesempatan mengikuti serangkaian kunjungan, diskusi interaktif, serta pertukaran pengetahuan bersama universitas terkemuka seperti Universitas Terbuka Jepang, Tsukuba University of Technology (NTUT), dan Kyoto University.
Rangkaian kegiatan ini dirancang khusus agar peserta dapat mendalami beragam pendekatan dalam membangun sistem dukungan bagi mahasiswa disabilitas, sekaligus merancang lingkungan pendidikan tinggi yang jauh lebih inklusif.
“Jepang dipilih karena pengalaman dan konteks kulturalnya dalam pendidikan inklusif memiliki kemiripan dengan Indonesia," ujar Head of Public Policy Pijar Foundation, Anthony Marwan.
Dia menambahkan, "rangkaian kegiatan ini kami desain untuk menjadi ruang bagi perguruan tinggi Indonesia belajar, berjejaring, dan mengeksplorasi potensi penguatan layanan disabilitas di lingkungan masing-masing."
"Harapannya, model dan contoh baik di Jepang bisa meneguhkan mimpi kita bersama membangun pendidikan tinggi inklusi di Indonesia,” imbuh Anthony Marwan.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran lintas negara ditempatkan sebagai sebuah proses komprehensif untuk memahami berbagai peluang baru, sekaligus mengidentifikasi praktik-praktik terbaik yang paling relevan untuk disesuaikan dengan konteks lokal di tanah air.
Transformasi menuju perubahan institusional ini sebetulnya telah dirintis sejak pelaksanaan Online Executive Workshop. Dalam lokakarya tersebut, para peserta mendalami berbagai materi krusial mengenai pendidikan tinggi inklusif.
Pembahasan mencakup pengembangan sistem ULD, studi praktik internasional, penerapan reasonable accommodation, prosedur asesmen dan konsultasi, penyusunan Individual Support Plan, penyediaan perangkat pendukung, keterlibatan mahasiswa, sistem peer support, hingga isu kepemimpinan dan komitmen kelembagaan.
Tak hanya itu, para fellows juga dibekali dengan Disability Equality Training guna membuka perspektif mendalam.
Rangkaian pelatihan intensif tersebut mendorong perguruan tinggi untuk menyadari bahwa isu inklusi bukanlah tugas tunggal dari satu unit atau individu semata, melainkan sebuah komitmen kolektif yang harus melekat pada sistem kelembagaan.
Di sisi lain, Krisan Fellowship juga berfungsi sebagai panggung pertukaran gagasan dua arah. Para peserta asal Indonesia turut membawa pengalaman serta realitas dari kampus masing-masing ke dalam meja diskusi internasional.
Latar belakang peserta berasal dari wilayah dengan kondisi geografis dan sosial yang beragam memungkinkan terjadinya dialog kaya, tidak hanya antara Indonesia dan Jepang, tetapi juga antarperguruan tinggi di dalam negeri.
“Krisan Fellowship mengubah cara saya melihat layanan disabilitas di perguruan tinggi. Sebelumnya, saya berpikir bahwa inklusi terutama tentang apa yang perlu disediakan oleh universitas," ujar Wakil Rektor III Universitas PGRI Argopuro Jember, Asrorul Mais.
"Kini saya memahami bahwa yang paling penting adalah mendengarkan mahasiswa penyandang disabilitas. Dari sana, kita dapat membangun layanan yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka," ujarmya.
"Dengan 189 mahasiswa penyandang disabilitas di universitas kami, saya menyadari bahwa penguatan layanan tidak dapat dilakukan sendiri. Kami membutuhkan kerja sama, jejaring, dan kesempatan untuk terus belajar dari pengalaman universitas lain, termasuk dari Jepang, lalu menyesuaikannya dengan konteks kami,” pungkas Asrorul Mais.
Baca juga: “Belum Siap Terima Disabilitas”, Penolakan yang Buat Pencari Kerja Disabilitas Kecewa
Pertukaran pengetahuan ini menjadi pijakan penting dalam proses pembenahan kampus.
Daripada memaksakan satu definisi atau model baku mengenai kampus inklusif, para peserta diajak untuk merancang sistem dukungan yang adaptif, tepat guna, dan sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik khas dari masing-masing institusi pendidikan tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya