KOMPAS.com - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap digital di kawasan Asia dan Pasifik.
AI kini terintegrasi dalam jaringan, infrastruktur, hingga penggunaan sehari-hari.
Penggabungan antara AI, jaringan canggih, daya komputasi, dan data pun akhirnya mengubah fungsi infrastruktur digital. Sistem yang tadinya hanya menyalurkan informasi, kini mampu menganalisis data dan mendukung pengambilan keputusan secara langsung.
Hal ini dapat membantu berbagai negara mengatasi tantangan terdesak di kawasan, mulai dari mempercepat penanganan bencana dan perbaikan layanan publik, hingga meningkatkan efisiensi sistem transportasi dan energi.
Meski demikian, kesenjangan dalam hal kecepatan, keandalan jaringan, dan daya komputasi masih membayangi serta berisiko meninggalkan sejumlah negara.
Baca juga: Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
"Untuk memastikan infrastruktur jaringan berbasis AI memberi manfaat bagi seluruh perekonomian di kawasan dibutuhkan langkah kebijakan yang terencana dan terkoordinasi, baik dari masing-masing pemerintah maupun melalui kerja sama regional," kata Armida Salsiah Alisjahbana, Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), dikutip dari Eco Business, Senin (7/9/2026).
Laporan Transformasi Digital Asia-Pasifik 2026 yang baru saja dirilis oleh ESCAP memperingatkan bahwa jurang pemisah digital berikutnya bukan lagi sekadar urusan akses internet.
Kawasan ini mencatat skor Rata-rata Indeks Transformasi Digital (DTI) sebesar 50,28, di atas rata-rata global yang berada di angka 49,63. Meski begitu, Asia-Pasifik masih menghadapi ketimpangan dalam kapasitas inovasi dan kesiapan lembaga.
Capaian pembangunan digital di negara-negara berpenghasilan tinggi bahkan hampir empat kali lipat lebih tinggi dibanding negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, laporan juga menyoroti besarnya potensi infrastruktur berbasis AI. Laporan ini menjelaskan bagaimana alat seperti SatGPT mampu membuat peta rawan banjir hanya dari perintah teks sederhana untuk mempercepat respons darurat.
Laporan tersebut juga menampilkan praktik-praktik terbaik dalam memanfaatkan AI dan teknologi digital untuk sistem peringatan dini bencana.
Baca juga: AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
Laporan ini diluncurkan pada pembukaan Komite ESCAP bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Sains, Teknologi, dan Inovasi. Selama tiga hari, para menteri dan pejabat senior akan berdiskusi tentang cara mendorong kesetaraan digital, mempercepat transformasi, serta memperkuat kerja sama regional untuk memangkas kesenjangan digital melalui Rencana Aksi Asia-Pacific Information Superhighway 2027–2030.
Rencana aksi tersebut mencakup langkah-langkah untuk memperkuat infrastruktur digital lintas negara yang tahan bencana, meningkatkan kualitas layanan publik dengan teknologi baru, mendorong berbagi solusi digital inovatif, serta membangun sistem data yang aman dan terpercaya.
Rencana ini juga mendesak adanya dukungan khusus dan pertukaran pengetahuan agar negara serta komunitas yang paling tertinggal dapat ikut menikmati manfaat teknologi baru.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya