Jumlah titik panas yang tercatat dari 1 Agustus hingga 8 September mencapai 13.443 titik, dibandingkan dengan 9.454 titik pada periode yang sama tahun 2015, berdasarkan platform pemantauan Sipongi milik Kementerian Kehutanan Indonesia yang mengacu pada data satelit Terra dan Aqua milik NASA.
Data dari Sipongi menunjukkan bahwa rekor bulanan tertinggi untuk jumlah titik panas tercatat pada Oktober 2015.
Baca juga: Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Fire Emissions Watch sendiri menggunakan pengamatan satelit untuk mengukur kadar debu halus, senyawa organik yang mudah menguap, gas rumah kaca, serta polutan lain akibat kebakaran.
Namun, Parrington menyebut angka sebenarnya mungkin lebih parah dari yang terdeteksi.
"Salah satu keunikan kebakaran lahan gambut adalah jika api membakar pada suhu rendah atau berada di bawah permukaan tanah, ukurannya bisa berada di bawah batas deteksi sensor satelit. Artinya, ada kebakaran yang sebenarnya tidak terlihat oleh kita," jelas Parrington.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 2015 menghasilkan emisi harian yang lebih besar daripada seluruh emisi gabungan Uni Eropa, serta menyebabkan lebih dari 100.000 kematian prematur di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
"Kita harus ingat bahwa ini masih awal musim, dan kami memperkirakan kebakaran akan terus berlanjut serta emisi akan terus meningkat, berpotensi hingga akhir Oktober, seperti yang terjadi pada tahun 2015," kata Parrington.
"Dalam dua bulan kita akan mengetahui seberapa ekstrem tahun ini, tetapi indikasi awal menunjukkan pergerakannya sama cepatnya, atau bahkan sedikit di atas tahun-tahun El Niño sebelumnya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya