KOMPAS.com - Emisi dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 19,7 juta ton metrik pada 1-7 September 2026, menjadikannya yang tertinggi di dunia dalam periode tersebut.
Data Fire Emissions Watch yang dikembangkan layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa menunjukkan, emisi kebakaran di Indonesia pada periode tersebut melampaui Rusia dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global.
Melansir CNA, Kamis (10/9/2026) portal yang dikembangkan layanan pemantauan iklim Copernicus milik Uni Eropa tersebut mengungkapkan emisi kebakaran di Indonesia dari tanggal 1 hingga 7 September mencapai 19,7 juta ton metrik.
Angka itu menyalip posisi Rusia dalam minggu ini dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global.
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan kebakaran hutan di dunia. Namun, karena kondisi cuaca Super El Nino memicu lonjakan suhu dan kekeringan parah, otoritas menyatakan negara ini tengah menghadapi musim kebakaran hutan paling parah dalam 11 tahun terakhir.
"Kami memang memperkirakan akan terjadi beberapa kebakaran di wilayah ini pada waktu-waktu seperti sekarang, tetapi keberadaan El Niño jelas memberikan dorongan yang sangat besar," ujar Mark Parrington, ilmuwan senior di Copernicus Atmosphere Monitoring Service di Bonn.
Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
"Kondisinya jauh lebih kering, lebih panas, dan begitu ada titik api, kebakaran tersebut membakar dengan cara yang jauh lebih ekstrem," paparnya lagi.
Dari tanggal 1 hingga 7 September, intensitas emisi kebakaran melampaui 1.500 kg per km persegi atau lebih dari 10 kali lipat tingkat emisi di Rusia. Konsentrasi tertinggi terjadi di Kalimantan dan bagian timur Sumatra, menurut data Copernicus pada hari Rabu.
Tingkat emisi ini 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman, meskipun masih sedikit lebih rendah dibandingkan 21,7 juta ton emisi yang dihasilkan pada minggu yang sama tahun 2015, saat Indonesia menghadapi kondisi El Niño yang sama intensnya.
Lebih lanjut, salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Kota Pontianak di Kalimantan Barat, di mana indeks kualitas udara mencapai angka 394 pada hari Rabu, menurut perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir. Angka di atas 300 sudah masuk dalam kategori berbahaya.
Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memantau kondisi kualitas udara yang berbahaya di Kalimantan dan wilayah lainnya dengan rasa prihatin.
Kementerian juga menyatakan sedang memantau data dari Copernicus, tetapi menambahkan bahwa data tersebut tidak secara langsung mencerminkan kondisi kualitas udara di wilayah tertentu, dan ada faktor-faktor lain yang juga perlu diperhitungkan.
Dari Januari hingga Juli tahun ini, kebakaran telah membumihanguskan sekitar 202.000 hektar lahan di Indonesia. Area tersebut sekitar sepertiga dari total luas kebakaran pada periode yang sama di tahun 2015, kata Nisa Novita dari organisasi lingkungan YKAN, yang mendampingi masyarakat dalam menanggulangi kebakaran.
"Namun, data bulan Agustus diperkirakan menunjukkan kenaikan tajam hingga sekitar 600.000 hektar, terutama di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan," ujarnya.
Indonesia kehilangan total 2,6 juta hektar lahan akibat kebakaran sepanjang tahun 2015.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya