KOMPAS.com - Asap rokok elektrik (vape) tidak hanya mengganggu orang-orang yang melintas, tetapi juga dapat membahayakan lingkungan secara aktif, menurut sebuah studi baru.
Melansir Phys, Kamis (10/9/2026) sisa cairan (e-liquid) pada vape nikotin buangan mengandung kadar timbal dan logam berat lainnya yang sangat tinggi, ungkap para peneliti dalam jurnal Environmental Monitoring and Assessment.
Tak hanya itu saja, pada vape sekali pakai terdapat baterai, sirkuit elektronik, dan plastik dalam satu wadah ringkas yang sangat sulit dibongkar dan didaur ulang, jelas peneliti.
"Penggunaan vape memicu dua masalah sekaligus," kata John Scott, ilmuwan pencegahan pencemaran di University of Illinois Urbana-Champaign.
"Pertama, ini adalah masalah sampah padat dan kedua, ini adalah masalah kesehatan. Orang-orang bilang vape adalah alternatif yang lebih baik daripada rokok konvensional. Padahal bahayanya sama saja, bahkan bisa lebih buruk," ungkapnya lagi.
Baca juga: Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
Kandungan timbal yang tinggi
Dalam penelitian ini, para peneliti mengumpulkan perangkat bekas di toko-toko vape di Inggris dan Amerika Serikat. Banyak dari toko ini menumpuk perangkat bekas karena tidak ada sistem yang jelas untuk pembuangannya secara benar.
Hasil analisis menunjukkan bahwa cairan yang diambil dari beberapa vape bekas mengandung kadar timbal yang sangat tinggi, termasuk salah satu yang tertinggi yang pernah dilaporkan dalam penelitian rokok elektrik.
Kandungan timbal tersebut bukan berasal dari komponen keras perangkat, seperti sambungan solder atau elemen pemanas, dalam jumlah yang bisa menjelaskan tingkat kontaminasi tersebut. Cairan itu sendiri yang tampaknya menjadi sumber utama timbal.
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti membeli sejumlah kecil vape baru yang belum dipakai dan mengujinya juga. Hasilnya ternyata sama dengan vape bekas, yang menunjukkan bahwa kandungan logam berat memang sudah ada sejak awal.
Meski begitu, peneliti belum menguji secara langsung apakah logam dalam cairan vape tersebut ikut terbawa ke dalam asap yang dihirup penggunanya atau apakah ada logam yang masuk ke paru-paru saat pemakaian normal.
Proses daur ulang yang sulit
Scott menambahkan, membongkar perangkat ini untuk membantu proses daur ulang juga terbukti sangat sulit.
"Melepaskan baterai dari benda-benda ini benar-benar sangat sulit, karena banyak di antaranya yang hampir tidak bisa dibuka," kata Scott.
Baca juga: Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik
Di Inggris, vape bekas yang dibuang sering kali memicu kebakaran di fasilitas pengolahan sampah akibat baterainya yang remuk dan terbakar saat tertekan.
"Membuat baterai yang mudah dilepas dapat menjadi solusi untuk mencegah masalah kebakaran tersebut, sehingga baterainya pun bisa didaur ulang," jelas Scott.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa vape sekali pakai tidak hanya berisiko mencemari air tanah dengan logam berat, tetapi juga akan terus menambah tumpukan sampah padat di tempat pembuangan akhir (TPA).
Desain produk yang lebih baik dapat membantu mengatasi masalah ini, seperti baterai yang mudah dilepas, penggunaan plastik yang bisa didaur ulang, serta membuat perangkat yang dapat diisi ulang daripada yang sekali pakai.
"Dengan makin populernya rokok elektrik, disarankan agar cairan vape secara umum termasuk yang digunakan pada perangkat isi ulang diawasi dan diatur dengan lebih ketat terkait kandungan zat berbahaya seperti logam," tutup para peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya