Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan

Kompas.com, 11 September 2026, 11:15 WIB
Sri Noviyanti

Editor

KOMPAS.com -  Menjaga ikan tetap segar setelah ditangkap bukan sekadar persoalan kualitas produk. Bagi nelayan, penanganan hasil tangkapan yang tepat juga berkaitan langsung dengan pendapatan, efisiensi sumber daya, hingga keberlanjutan sektor perikanan.

Salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia adalah terbatasnya penerapan sistem rantai dingin atau cold chain. Sistem ini berperan menjaga suhu ikan sejak ditangkap, disimpan, diangkut, hingga sampai ke tangan konsumen.

Padahal, produksi perikanan Indonesia mencapai sekitar 15 juta ton pada 2025. Namun, Anggota Komisi IV DPR RI Prof Rokhmin Dahuri menyebut belum banyak hasil perikanan yang mendapatkan penanganan dengan sistem rantai dingin.

Baca juga: 65 Kampung Nelayan Merah Putih Mulai Uji Coba, Penghasilan Tembus Rp 11,10 Miliar

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian hasil perikanan mengalami penurunan mutu bahkan terbuang sebelum sampai ke konsumen.

“Saya sangat menyambut baik dan mengapresiasi diselenggarakannya semacam simposium atau lokakarya sistem rantai dingin yang mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Rokhmin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (11/9/2026).

Rokhmin mengungkapkan, dari sekitar 15 juta ton produksi perikanan Indonesia setiap tahun, kurang dari 12 persen yang dapat ditangani dengan sistem rantai dingin.

Keterbatasan infrastruktur tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah hasil perikanan yang terbuang. Ketika kualitas ikan menurun, nelayan juga berpotensi mendapatkan harga jual yang lebih rendah.

Baca juga: Pemerintah Bidik 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029

“Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita,” kata Rokhmin.

Dari menjaga ikan hingga penghidupan nelayan

Rantai dingin pada dasarnya menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi kehilangan hasil perikanan (food loss). Dengan penyimpanan dan distribusi pada suhu yang sesuai, ikan dapat dipertahankan kesegarannya lebih lama sehingga tidak cepat rusak.

Dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel secara langsung di booth.Dok TITAN Containers Dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel secara langsung di booth.

Dampaknya tidak berhenti pada produk. Semakin sedikit hasil tangkapan yang terbuang, semakin besar pula peluang nelayan memperoleh nilai ekonomi dari hasil tangkapannya.

Sebaliknya, keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat nelayan dan pelaku usaha perikanan memiliki waktu yang lebih sempit untuk menjual hasil tangkapan. Kondisi ini dapat semakin berat bagi masyarakat pesisir yang berada jauh dari pusat distribusi atau pasar.

Baca juga: Pemerintah Bangun 1.269 Kampung Nelayan Merah Putih hingga Akhir 2026, Prabowo Siap Resmikan

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan daya saing produk perikanan Indonesia. Mutu yang tidak terjaga dapat membuat produk sulit memenuhi persyaratan pasar, termasuk pasar ekspor.

Karena itu, pengembangan rantai dingin perlu dilihat bukan hanya sebagai pembangunan infrastruktur pendingin, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Energi surya jadi alternatif

Di sisi lain, pengembangan rantai dingin juga menghadirkan tantangan baru, yakni kebutuhan energi. Fasilitas seperti cold storage, mesin pendingin, refrigerator, dan cool box membutuhkan energi untuk menjaga suhu secara konsisten.

Baca juga: Belum Sebulan, Kampung Nelayan Merah Putih di Konawe Kirim 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor

Rokhmin mendorong agar pengembangan teknologi tersebut mulai diarahkan pada sistem yang lebih rendah emisi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan, terutama energi surya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau