Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa

Kompas.com, 13 September 2026, 17:26 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Penegasan batas desa tidak hanya berkaitan dengan kepastian administrasi wilayah, tetapi juga penting untuk mengurangi potensi konflik, memberikan kepastian bagi masyarakat, serta menjadi dasar perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Ditjen Bina Pemdes) dalam mempercepat penegasan batas desa di tiga kabupaten di Sulawesi Tenggara, yakni Buton Tengah, Muna, dan Muna Barat.

Sebanyak 272 desa di tiga kabupaten tersebut akan mendapatkan percepatan penegasan batas melalui Integrated Land Administration and Spatial Planning Program (ILASPP) yang merupakan kerja sama Bank Dunia, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kemendagri, dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa La Ode Ahmad P Bolombo mengatakan, dari 272 desa tersebut, 81 desa berada di Muna Barat, 124 desa di Muna, dan 67 desa di Buton Tengah.

"Ada 81 desa di Muna Barat, 124 desa di Muna, dan 67 desa di Buton Tengah," kata La Ode saat membuka Bimbingan Teknis Pengumpulan Data Lingkungan dan Sosial ILASPP Penegasan Batas Desa di tiga kabupaten tersebut, di Aula Kantor Bupati Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/9/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Buton Tengah Azhari. Menurut La Ode, batas desa yang jelas penting karena menyangkut ruang hidup masyarakat. Ketidakjelasan batas dapat menimbulkan perbedaan pemahaman antarwilayah, termasuk dalam pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan pembangunan.

Karena itu, proses penegasan batas tidak hanya mengandalkan pemetaan teknis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan lingkungan. Identifikasi tersebut dilakukan untuk mengetahui sejak awal potensi persoalan sehingga dapat ditangani melalui fasilitasi dan mediasi.

"Penegasan batas desa ini juga penting dari sisi sosial karena memberikan kejelasan kepada masyarakat mengenai wilayahnya. Potensi persoalan atau konflik yang berkaitan dengan batas wilayah dapat diidentifikasi dan diselesaikan sejak awal," ujarnya.

Dampak sosial dan keberlanjutan

Dirjen Bina Pemerintahan Desa La Ode Ahmad P Bolombo saat membuka Bimtek Pengumpulan Data Lingkungan dan Sosial ILASPP Penegasan Batas Desa di tiga kabupaten tersebut, di Aula Kantor Bupati Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/9/2026).

DOK. KEMENDAGRI Dirjen Bina Pemerintahan Desa La Ode Ahmad P Bolombo saat membuka Bimtek Pengumpulan Data Lingkungan dan Sosial ILASPP Penegasan Batas Desa di tiga kabupaten tersebut, di Aula Kantor Bupati Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/9/2026).

Pendekatan partisipatif menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Masyarakat dan pemerintah desa dilibatkan untuk memberikan informasi kondisi wilayah serta menyepakati batas berdasarkan kondisi di lapangan.

Pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa banyak persoalan batas dapat diselesaikan melalui musyawarah desa. Di Bolaang Mongondow, terdapat 11 segmen yang difasilitasi wakil bupati, sedangkan 494 segmen lainnya disepakati melalui musyawarah desa.

Di Tolitoli, enam segmen difasilitasi bupati dan 97 segmen disepakati melalui musyawarah desa. Sementara di Donggala, 20 segmen difasilitasi bupati dan 272 segmen lainnya diselesaikan melalui musyawarah desa.

Kepastian batas juga dapat mendukung perencanaan pembangunan karena pemerintah memiliki rujukan wilayah yang lebih jelas untuk menentukan lokasi pembangunan, pelayanan publik, dan program pemberdayaan masyarakat.

"Output utama data awal yang valid, partisipatif, dan siap menjadi dasar rekomendasi penegasan batas desa," kata La Ode.

Dalam proses tersebut, pemerintah mengumpulkan data lingkungan dan sosial melalui screening. Hasilnya direkap dalam database KoboToolbox dengan status approved untuk seluruh kabupaten.

Desa yang memiliki potensi persoalan akan diidentifikasi berdasarkan lokasi, jenis, dan tingkat masalahnya untuk kemudian difasilitasi penyelesaiannya sebelum hasil penegasan ditetapkan oleh bupati.

Dari sisi keberlanjutan, data lingkungan dan sosial menjadi penting untuk mengenali potensi risiko sejak awal sehingga pembangunan desa tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.

"Data lingkungan dan sosial diperlukan agar pemerintah dapat mengetahui sejak awal potensi risiko yang ada di setiap desa. Ini menjadi dasar untuk pengelolaan dan minimalisasi potensi risiko," ujar La Ode.

Data dan kesepakatan batas yang dihasilkan diharapkan dapat terus digunakan pemerintah daerah dan desa sebagai rujukan dalam tata kelola wilayah, perencanaan pembangunan, pelayanan masyarakat, dan pengelolaan sumber daya.

Percepatan penegasan batas desa di tiga kabupaten Sultra merupakan pelaksanaan ILASPP tahap kedua, bersama Pati, Klaten, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul. Tahap pertama telah dilaksanakan di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, serta Donggala dan Tolitoli di Sulawesi Tengah.

La Ode mengharapkan dukungan pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa dalam proses tersebut. Pemerintah kabupaten diharapkan melakukan pembinaan dan pengawasan, camat mengoordinasikan proses screening, sementara pemerintah desa memberikan informasi mengenai kondisi sosial dan lingkungan sesuai kondisi di lapangan.

Baca juga: Masa Jabatan Kades Tak Terbatas, Pengamat Khawatir Muncul Raja-raja di Desa

"Untuk desa diharapkan koordinatif dalam penyampaian informasi kondisi lingkungan dan sosial sesuai realita di desa dan masyarakat agar dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan dan minimalisasi potensi risiko," katanya.

Dengan demikian, penegasan batas desa diharapkan tidak berhenti pada kepastian garis administratif, tetapi menjadi fondasi bagi hubungan sosial yang lebih baik, pembangunan yang lebih tepat sasaran, serta pengelolaan wilayah yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau