Penulis
KOMPAS.com - Saat bencana alam melanda, perhatian publik dan bantuan kemanusiaan umumnya memuncak pada fase tanggap darurat (emergency response). Namun, tantangan terbesar dan yang sering kali terabaikan justru muncul pada fase pemulihan (recovery).
Ketika masa tanggap darurat berakhir, fasilitas kesehatan lokal kerap mengalami kelumpuhan infrastruktur, keterbatasan alat medis, serta kelangkaan tenaga ahli. Akibatnya, masyarakat terdampak rentan mengalami krisis kesehatan sekunder.
Di sinilah peran penting kolaborasi lintas sektorantara sektor swasta yang memiliki kapasitas pendanaan dan lembaga akademis/alumni medis yang memiliki jaring tenaga ahli di lapangan menjadi kunci untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berlanjut.
Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Iluni FKUI) melalui inisiatif program Nusa Pulih 2026 berupaya memberikan dukungan penanganan dan pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program Nusa Pulih 2026 berupaya memastikan bantuan bencana tidak sekadar membagikan logistik singkat, melainkan membangun ketahanan kesehatan masyarakat hingga masa pemulihan selesai.
Langkah Iluni FK UI ini mendapatkan dukungan APP Group yang turut menyalurkan bantuan senilai Rp 150 juta melalui program Nusa Pulih 2026.
Dukungan tersebut akan memperkuat pelayanan kesehatan menjangkau sejumlah wilayah terdampak, yakni Ruteng di Kabupaten Manggarai, Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, serta Aeramo di Kabupaten Nagekeo.
Iluni FKUI telah mengirimkan lima tim delegasi terdiri dari empat dokter spesialis, 13 peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS)/residen, lima dokter umum, tiga mahasiswa kedokteran/co-ass, satu perawat, dan satu radiografer.
Koordinator Nusa Pulih 2026 dr. Riyadh Firdaus menjelaskan, meskipun fase tanggap darurat telah berlalu, kebutuhan masyarakat terdampak masih perlu mendapatkan perhatian, terutama dalam mendukung proses pemulihan dan keberlanjutan pelayanan kesehatan.
Baca juga: Kualitas Udara Kian Memburuk, Warga Palangka Raya Keluhkan Berbagai Gangguan Kesehatan
“Meskipun fase tanggap darurat di NTT telah berlalu, kebutuhan masyarakat di area terdampak belum berakhir," ungkap Riyadh.
"Saat ini perhatian perlu terus diarahkan pada proses pemulihan, termasuk keberlanjutan pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Kami berharap bantuan ini dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan tersebut,” jelasnya.
Selain pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, program Nusa Pulih 2026 juga mencakup dukungan berupa hibah alat medis dan nonmedis, reagensia laboratorium, serta obat-obatan untuk menunjang pelayanan di wilayah terdampak.
Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata mengatakan, keterlibatan APP Group dalam Nusa Pulih 2026 berangkat dari kepedulian membantu masyarakat terdampak sekaligus memastikan dukungan dapat disalurkan melalui mitra yang memiliki kapasitas dan jaringan pelayanan kesehatan di lapangan.
“Sejak mengetahui terjadinya bencana di NTT, kami memiliki keinginan untuk turut membantu masyarakat yang terdampak. Kesempatan untuk bekerja sama dengan Iluni FKUI memberikan jalur penyaluran yang kami harapkan dapat memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Semoga dukungan ini dapat memberikan manfaat nyata dalam proses pemulihan di NTT,” ujar Suhendra.
Ketua Umum Iluni FKUI Marsma (Purn). dr. Wawan Mulyawan menyampaikan apresiasi atas dukungan APP Group yang diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya