Penulis
KOMPAS.com - Isu "Telur Bebas Sangkar" (Cage Free Eggs) saat ini sedang menjadi salah satu topik tren utama dalam isu keberlanjutan, kesejahteraan hewan, serta rantai pasok pangan bertanggung jawab global maupun nasional.
Dalam industri peternakan ayam petelur konvensional, mayoritas ayam dipelihara dalam sangkar baterai, kandang kawat sempit berderet di mana setiap ayam hanya memiliki ruang gerak seukuran lembaran kertas A4.
Di dalam sangkarnya, ayam tidak dapat mengepakkan sayap, berjalan, membentangkan tubuh, atau mengekspresikan perilaku alamiahnya.
Sistem bebas sangkar (cage free) mencoba mengubah total pola tersebut. Ayam tidak dikurung dalam sel kawat sempit, melainkan dilepas di dalam bangsal/kandang tertutup yang luas.
Tidak berhenti sampai di situ, peternakan juga menyediakan fasilitas bertengger (roosting), area bersarang untuk bertelur (nesting boxes), serta media untuk mengais atau mandi debu (litter/dust bathing).
Perlu dibedakan, cage free berarti ayam bebas bergerak di dalam kandang (indoor), sedangkan free range meliput akses tambahan lebih luas hingga ke area luar ruangan (outdoor).
Isu cage free kini telah bergeser dari sekadar wacana aktivis menjadi indikator penting dalam pemenuhan kriteria ESG (Environmental, Social, and Governance) serta Sustainable Development Goals (SDGs).
Banyak korporasi multinasional dan rantai ritel/perhotelan global telah menetapkan tenggat waktu kebijakan "100% Cage-Free Egg Commitment" implementasi penuh antara tahun 2025–2030.
Kebijakan ini mewajibkan seluruh rantai pasok (supply chain) mereka, termasuk pemasok lokal di Indonesia, untuk beralih dari telur sangkar baterai ke telur bebas sangkar.
Tantangan krusial inilah yang mengemuka dalam forum Corporate Roundtable Discussion 2026 bertema "Beyond Commitment: Corporate Insights and Collaboration for Responsible Sourcing" yang diselenggarakan oleh Animal Friends Jogja (AFJ) di Yogyakarta (22/10/2026).
Baca juga: Tiket Ragunan Boleh Naik Jadi Rp 10.000, Asal untuk Kesejahteraan Hewan, Jangan Dikorupsi!
Diskusi hibrida yang mempertemukan perusahaan, produsen, pemerintah, dan organisasi kesejahteraan hewan ini menyoroti bahwa komitmen korporasi tidak akan berdampak nyata tanpa kesiapan hulu hingga hilir, mulai ketersediaan pasokan, stabilitas harga, standar kualitas, hingga ketertelusuran produk.
Forum Corporate Roundtable Discussion 2026 bertema Beyond Commitment: Corporate Insights and Collaboration for Responsible Sourcing yang diselenggarakan oleh Animal Friends Jogja (AFJ) di Yogyakarta (22/10/2026).
Dalam forum tersebut, Ketua Kelompok Substansi Penerapan, Pengawasan, dan Sertifikasi Mutu Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Boethdy Angkasa menyampaikan pemerintah mendukung transisi menuju sistem cage-free sebagai bentuk diferensiasi produk yang selaras dengan tren gaya hidup sehat masyarakat.
Dari sisi produsen, Syamim Shihab dari PT Mega Berlian Utama (Widodo Makmur Group) menguraikan pentingnya menjaga kontinuitas pasokan dan kapasitas produksi agar kebutuhan industri tetap terpenuhi secara konsisten.
Sejumlah pelaku industri juga membagikan strategi transisi mereka. Fredeswinda Sukma dari Garrya Bianti Yogyakarta mengandalkan kemitraan dengan peternak lokal dan komunitas perempuan, sementara Dinda Paramitha dari Dough Lab menyoroti pentingnya standarisasi kualitas dan verifikasi pemasok.
Dari sudut pandang pengadaan bahan baku, Tri Widiantoro dari Chocolate Monggo menegaskan bahwa praktik pengadaan yang bertanggung jawab harus menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang diiringi edukasi konsumen.
Melalui sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai sektor industri dalam forum tersebut, peserta mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam penerapan telur bebas sangkar di Indonesia:
Telur Bebas Sangkar (Cage Free Eggs) saat ini sedang menjadi salah satu topik tren utama dalam isu keberlanjutan, kesejahteraan hewan, serta rantai pasok pangan bertanggung jawab global maupun nasional.Perusahaan yang telah berkomitmen membuktikan bahwa kendala pasokan dapat diatasi melalui kolaborasi dengan lebih dari satu pemasok peternak, sementara penerapan target bertahap menjadi strategi efektif untuk meredam selisih harga.
Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Animal Friends Jogja, Elly Mangunsong menekankan bahwa komitmen awal harus dikawal dengan langkah nyata dan terukur.
"Komitmen terhadap telur bebas sangkar merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik, dengan target yang jelas dan perkembangan yang dapat dipantau," ujar Elly.
Baca juga: Tren Seleb Pet Dinilai Positif, Asal Tak Abaikan Kesejahteraan Hewan
Dia menegaskan, penguatan komunikasi dan kolaborasi lintas sektor antara perusahaan, produsen, pemerintah, dan masyarakat, transisi menuju rantai pasok bertanggung jawab ini diharapkan tidak hanya memperkuat standar industri pangan nasional, tetapi juga membawa dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan hewan di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya