KOMPAS.com - Bank Dunia telah meluncurkan strategi digital pertamanya untuk membantu negara-negara berkembang memperluas akses internet yang terjangkau, meningkatkan layanan publik, menciptakan lapangan kerja, dan mempersiapkan perekonomian mereka agar dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Melansir Down to Earth, Kamis (22/10/2026) strategi ini diluncurkan di Seoul pada 20 Oktober 2026 dalam KTT Global AI dan Digital pertama lembaga tersebut. Strategi menggabungkan sumber daya sektor publik dan swasta Bank Dunia untuk mempercepat pembangunan digital.
Peluncuran ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan bagi negara-negara berkembang untuk menciptakan lapangan kerja di tengah keterbatasan sumber daya keuangan.
Selama 10 hingga 15 tahun ke depan, diperkirakan 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia kerja di negara-negara berkembang, sementara perekonomian mereka diproyeksikan hanya mampu menciptakan sekitar 420 juta lapangan kerja.
Menurut Bank Dunia, teknologi digital dapat membantu mengatasi kesenjangan lapangan kerja ini dengan cara meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta membuat akses keuangan menjadi lebih mudah bagi dunia usaha.
Baca juga: Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Teknologi ini juga dapat menekan biaya penyampaian layanan publik dan mendukung aktivitas ekonomi di lima sektor prioritas yakni infrastruktur dan energi, agribisnis, kesehatan, pariwisata, serta manufaktur bernilai tambah.
Namun, masih banyak hambatan besar untuk mewujudkan inklusi digital yang merata.
Lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia masih belum tersambung ke internet pada tahun 2025. Penggunaan internet di negara-negara berpendapatan rendah hanya 23 persen, jauh tertinggal dibandingkan 94 persen di negara-negara berpendapatan tinggi.
Mahalnya harga perangkat dan data, terbatasnya keterampilan digital, serta minimnya layanan online yang relevan masih menjadi penghalang bagi jutaan orang untuk menikmati manfaat dari koneksi internet.
Strategi ini pun menetapkan empat prioritas utama yakni memperluas koneksi yang andal, membuat perangkat dan data lebih terjangkau, memperkuat layanan dan keterampilan digital, serta membantu negara-negara membangun infrastruktur dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengadopsi AI.
Untuk mengatasi berbagai tantangan ini, grup Bank Dunia berencana mendukung investasi pada infrastruktur telekomunikasi, mendorong persaingan sehat, dan menghimpun modal swasta guna memperluas akses internet ke daerah-daerah yang belum terlayani.
Kemitraan dengan produsen perangkat, operator seluler, dan lembaga keuangan juga diharapkan dapat membantu menurunkan harga ponsel pintar serta layanan internet broadband.
Strategi ini memprioritaskan sistem identitas digital, pembayaran digital, dan platform berbagi informasi yang aman, serta program literasi digital dan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan peluang kerja.
Perlindungan privasi, keamanan siber, dan pencegahan penipuan juga ditetapkan sebagai langkah pengamanan yang diperlukan untuk mendukung perluasan layanan digital.
Selain itu, mempersiapkan negara-negara berkembang untuk menggunakan AI adalah komponen penting lainnya dalam strategi ini.
Bank Dunia mempromosikan apa yang disebutnya sebagai AI skala kecil yaitu aplikasi praktis yang dirancang untuk melakukan tugas-tugas khusus dan menanggapi kebutuhan lokal.
Baca juga: Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Contohnya meliputi alat untuk mendeteksi penyakit tanaman, membantu tenaga kesehatan, dan membantu pelaku usaha mengelola stok barang.
Seiring dengan strategi tersebut, grup Bank Dunia mengumumkan Inisiatif Infrastruktur dan Kesiapan AI untuk membantu negara-negara berkembang mendapatkan akses kapasitas komputasi yang terjangkau.
Inisiatif ini menawarkan akses bersama dengan sistem bayar-sesuai-pemakaian (pay-as-you-go) ke unit pemrosesan grafis (GPU) khusus, yang digunakan untuk mengembangkan dan menjalankan aplikasi AI.
Pada tahap awal difokuskan di Afrika dan Amerika Latin, inisiatif ini bertujuan untuk memberikan alternatif selain harus membangun pusat data nasional mandiri yang mahal.
Melalui pendanaan, saran kebijakan, investasi swasta, dan jaminan, grup Bank Dunia menyatakan tujuannya adalah untuk membantu negara-negara berkembang mengubah peningkatan akses digital menjadi produktivitas yang lebih tinggi, layanan publik yang lebih baik, dan peluang ekonomi yang lebih luas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya