Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 16:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Eropa memasuki era baru pemasaran hijau karena semakin banyak kota yang melarang iklan yang merusak iklim.

Melansir Euro News, Minggu (25/10/2026) semua ini bermula dari Amsterdam, yang tahun ini menjadi ibu kota pertama di dunia yang melarang papan reklame promosi bahan bakar fosil dan daging pada 1 Mei lalu atau lima tahun setelah aturan itu pertama kali diusulkan.

Larangan ini merupakan bagian dari target kota tersebut untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 sekaligus mengurangi konsumsi daging hingga separuhnya pada periode yang sama.

Sejumlah kota lain di Belanda, seperti Utrecht, Den Haag, Zwolle, Delft, dan Nijmegen, sudah lebih dulu memberlakukan larangan serupa.

Banyak kota lainnya, termasuk Helsinki, Stockholm, dan Bristol, juga telah melarang promosi bahan bakar fosil atau produk tinggi karbon lainnya seperti penerbangan, pelayaran, fast-fashion, dan konstruksi. Namun, sebagian besar kota tersebut tidak memasukkan daging ke dalam larangan itu.

Pelarangan iklan daging

Meskipun dampak pembakaran bahan bakar fosil terhadap iklim sudah banyak dipahami, dampak lingkungan dari peternakan hewan masih jarang mendapat perhatian.

Baca juga: Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia

Tdak bisa disembunyikan bahwa sektor pangan dan pertanian menyumbang sepertiga dari emisi gas rumah kaca (GRK) global, nomor dua setelah pembakaran batu bara, minyak, dan gas.

Makanan yang berasal dari hewan di Uni Eropa juga diperkirakan menyumbang 81 hingga 86 persen dari total emisi gas rumah kaca akibat produksi pangan. Padahal, makanan tersebut hanya menyumbang sekitar 21 persen kalori dan 64 persen protein bagi manusia.

Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah meminta berbagai negara terutama di Barat untuk mengurangi konsumsi daging demi mengatasi masalah ini.

Yang paling menonjol, laporan Komisi EAT-Lancet tahun 2025 yang disusun oleh 70 ahli terkemuka dari 35 negara menemukan bahwa sekitar 15 juta kematian dapat dicegah setiap tahunnya jika dunia beralih ke pola makan yang didominasi nabati.

Para ahli menyatakan langkah ini juga dapat memangkas emisi gas rumah kaca non-CO2 dari sektor pertanian, seperti gas metana dari ternak dan dinitrogen oksida dari pupuk sebesar 15 persen pada tahun 2050.

Jika memperhitungkan seluruh siklus hidup makanan penurunan total emisi akan jauh lebih besar lagi.

Iklan membentuk perilaku orang Eropa

Larangan daging di Amsterdam memicu perdebatan sengit. Banyak warganet di media sosial menyebut aturan tersebut konyol atau berargumen bahwa konsumsi daging mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang mereka lihat di papan reklame.

"Jujur saja, saya tidak ingat kapan terakhir kalinya saya membeli sesuatu secara langsung karena sebuah iklan," tulis seorang pengguna Reddit.

Baca juga: Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa

Namun, Linda Aspey, seorang ahli psikologi iklim sekaligus anggota dewan Climate Psychology Alliance, mengatakan bahwa sebagian besar kekuatan pengaruh iklan berasal dari pengulangan dan isyarat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Pemerintah
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau