"Satu penelitian menemukan bahwa melihat gambar daging meningkatkan keinginan seseorang untuk memakannya, dan kehadiran iklan tersebut setiap hari kemungkinan besar memperkuat anggapan bahwa daging adalah pilihan yang biasa,” ujarnya.
“Hal ini mungkin diperkuat oleh identitas, budaya, atau mata pencaharian seseorang di mana makan daging adalah bagian dari hal tersebut, sehingga hampir tidak menimbulkan keraguan atau beban pikiran secara sadar,” katanya lagi.
Sebagai contoh, konsumsi daging di Belanda sedang mengalami penurunan. Pada tahun 2024, warga Belanda mengonsumsi lebih sedikit daging termasuk produk olahan daging dibanding tahun-tahun sebelumnya dalam 20 tahun terakhir, menurut dari Wageningen Social and Economic Research.
“Bukti yang ada menunjukkan bahwa iklan biasanya membentuk apa yang terasa normal bagi kebanyakan dari kita, dalam tingkat yang berbeda-beda, yang pada gilirannya dapat membentuk perilaku.” jelas Aspey.
Amsterdam belum mengumumkan data apa pun tentang bagaimana pelarangan tersebut berdampak pada konsumsi daging di kota itu, tetapi para ahli memperkirakan akan ada korelasi atau keterkaitan.
Ketika Transport for London (TfL) di Inggris menghapus iklan junk food dari jaringan transportasinya, pembelian mingguan rumah tangga diperkirakan turun hampir tujuh persen, sementara pembelian katering/permen turun hampir seperlimanya.
Hal ini diukur berdasarkan data belanja yang sebenarnya, bukan dari survei konsumen.
“Efeknya memang tidak drastis karena pelarangan ini hanya mengubah rangsangan konstan yang dilihat orang setiap hari, tanpa harus mengubah alasan mengapa mereka memakan apa yang mereka makan, entah itu karena kebiasaan, rasa, mata pencaharian, atau anggaran,” jelas Aspey.
“Seperti halnya pengendalian tembakau, pembatasan semacam ini cenderung bekerja paling baik jika digabungkan dengan langkah-langkah lain, bukan dilakukan sendirian,” tambahnya.
Terlepas dari kaitan iklimnya yang sudah diketahui, Uni Eropa (EU) secara historis telah mendukung makanan seperti daging merah melalui subsidi besar-besaran.
Baca juga: Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Sebuah laporan baru dari lembaga amal Foodrise menemukan bahwa Kebijakan Pertanian Bersama Uni Eropa (CAP) menyalurkan lebih banyak subsidi untuk produksi makanan hewani yang menghasilkan emisi tinggi dibandingkan makanan nabati pada tahun 2020.
Pada tahun tersebut, makanan hewani menerima sekitar 77 persen dari total subsidi CAP, yaitu sebesar 39 miliar euro (sekitar Rp660 triliun) dari total pengeluaran sebesar 51 miliar euro.
Studi tersebut menemukan bahwa daging sapi dan domba, yang terus-menerus diidentifikasi sebagai penyebab utama kerusakan iklim, diberi subsidi sekitar 580 kali lebih banyak dibandingkan kacang-kacangan seperti miju-miju dan buncis pada tahun 2020.
Beralih dari mendanai makanan-makanan ini ke tindakan aktif melarangnya dari iklan publik mungkin terasa terlalu drastis tetapi para ahli mengatakan hal itu bisa menjadi bagian dari "kombinasi strategi" untuk mengatasi perubahan iklim.
“Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa pola makan berkelanjutan membutuhkan jauh lebih sedikit daging daripada yang dikonsumsi masyarakat Inggris saat ini, baik untuk kesehatan bumi maupun kesehatan pribadi. Pemasaran yang sangat condong ke daging terutama yang diproduksi secara massal dan murah membuat perubahan itu menjadi lebih sulit,” ujar Aspey.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya