Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 16:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

"Satu penelitian menemukan bahwa melihat gambar daging meningkatkan keinginan seseorang untuk memakannya, dan kehadiran iklan tersebut setiap hari kemungkinan besar memperkuat anggapan bahwa daging adalah pilihan yang biasa,” ujarnya.

“Hal ini mungkin diperkuat oleh identitas, budaya, atau mata pencaharian seseorang di mana makan daging adalah bagian dari hal tersebut, sehingga hampir tidak menimbulkan keraguan atau beban pikiran secara sadar,” katanya lagi.

Sebagai contoh, konsumsi daging di Belanda sedang mengalami penurunan. Pada tahun 2024, warga Belanda mengonsumsi lebih sedikit daging termasuk produk olahan daging dibanding tahun-tahun sebelumnya dalam 20 tahun terakhir, menurut dari Wageningen Social and Economic Research.

“Bukti yang ada menunjukkan bahwa iklan biasanya membentuk apa yang terasa normal bagi kebanyakan dari kita, dalam tingkat yang berbeda-beda, yang pada gilirannya dapat membentuk perilaku.” jelas Aspey.

Efektivitas pelarangan iklan daging

Amsterdam belum mengumumkan data apa pun tentang bagaimana pelarangan tersebut berdampak pada konsumsi daging di kota itu, tetapi para ahli memperkirakan akan ada korelasi atau keterkaitan.

Ketika Transport for London (TfL) di Inggris menghapus iklan junk food dari jaringan transportasinya, pembelian mingguan rumah tangga diperkirakan turun hampir tujuh persen, sementara pembelian katering/permen turun hampir seperlimanya.

Hal ini diukur berdasarkan data belanja yang sebenarnya, bukan dari survei konsumen.

“Efeknya memang tidak drastis karena pelarangan ini hanya mengubah rangsangan konstan yang dilihat orang setiap hari, tanpa harus mengubah alasan mengapa mereka memakan apa yang mereka makan, entah itu karena kebiasaan, rasa, mata pencaharian, atau anggaran,” jelas Aspey.

“Seperti halnya pengendalian tembakau, pembatasan semacam ini cenderung bekerja paling baik jika digabungkan dengan langkah-langkah lain, bukan dilakukan sendirian,” tambahnya.

Terlepas dari kaitan iklimnya yang sudah diketahui, Uni Eropa (EU) secara historis telah mendukung makanan seperti daging merah melalui subsidi besar-besaran.

Baca juga: Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim

Sebuah laporan baru dari lembaga amal Foodrise menemukan bahwa Kebijakan Pertanian Bersama Uni Eropa (CAP) menyalurkan lebih banyak subsidi untuk produksi makanan hewani yang menghasilkan emisi tinggi dibandingkan makanan nabati pada tahun 2020.

Pada tahun tersebut, makanan hewani menerima sekitar 77 persen dari total subsidi CAP, yaitu sebesar 39 miliar euro (sekitar Rp660 triliun) dari total pengeluaran sebesar 51 miliar euro.

Studi tersebut menemukan bahwa daging sapi dan domba, yang terus-menerus diidentifikasi sebagai penyebab utama kerusakan iklim, diberi subsidi sekitar 580 kali lebih banyak dibandingkan kacang-kacangan seperti miju-miju dan buncis pada tahun 2020.

Beralih dari mendanai makanan-makanan ini ke tindakan aktif melarangnya dari iklan publik mungkin terasa terlalu drastis tetapi para ahli mengatakan hal itu bisa menjadi bagian dari "kombinasi strategi" untuk mengatasi perubahan iklim.

“Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa pola makan berkelanjutan membutuhkan jauh lebih sedikit daging daripada yang dikonsumsi masyarakat Inggris saat ini, baik untuk kesehatan bumi maupun kesehatan pribadi. Pemasaran yang sangat condong ke daging terutama yang diproduksi secara massal dan murah membuat perubahan itu menjadi lebih sulit,” ujar Aspey.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Pemerintah
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau