Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Program Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik yang digagas Danantara Indonesia memasuki fase tender.
Sebanyak 24 perusahaan internasional tercatat sebagai peserta dan diwajibkan membentuk konsorsium dalam proses seleksi ini.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia Fadli Rahman mengatakan pembentukan konsorsium diharapkan dapat mendorong transfer teknologi kepada perusahaan lokal maupun pemerintah daerah. Pada tahap awal, pengembangan proyek WtE difokuskan di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Baca juga: Kompas Gramedia Resmikan Waste Station untuk Daur Ulang Sampah
"Proses tender dirancang dengan tata kelola yang kuat dan transparan, termasuk dalam pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL)," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026).
Dari 24 peserta, tiga perusahaan dari Prancis, Tiongkok, dan Jepang, memiliki rekam jejak global di bidang pengelolaan limbah dan energi.
Perusahaan asal Prancis, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd, merupakan bagian dari grup multinasional Veolia yang bergerak di sektor pengelolaan air, limbah, dan energi di 50 negara.
Di Indonesia, Veolia hadir melalui PT Veolia Services Indonesia yang mengoperasikan pabrik daur ulang PET berkapasitas 25.000 ton per tahun di Pasuruan, Jawa Timur.
Dari Tiongkok, China Conch Venture Holding Limited tercatat sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dan berafiliasi dengan Anhui Conch Group.
Perusahaan ini menjadikan bisnis WtE sebagai segmen utama, termasuk pengolahan limbah padat menjadi energi panas dan listrik serta produksi peralatan pembangkit energi sisa panas.
Sementara itu, perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) memiliki pengalaman dalam proyek WtE di berbagai negara.
Baca juga: Jejak Racun di Balik Elektronik Bekas: Bahaya Buang E-Waste Sembarangan
Di Shanghai, China, MHIECE mengelola fasilitas yang mampu mengolah 6.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan 144 megawatt listrik. Di Indonesia, teknologi MHIECE telah digunakan di TPST Bantargebang sejak 2019 dengan kapasitas pengolahan 100 ton sampah per hari.
Program WtE Danantara ini diharapkan dapat mempercepat solusi pengelolaan sampah perkotaan sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dari limbah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya