Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik

Kompas.com, 1 April 2026, 10:28 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Polistiren adalah jenis plastik yang banyak digunakan karena ringan dan murah. Tapi di sisi lain, plastik ini tidak mudah terurai, mampu bertahan di lingkungan dalam waktu yang sangat lama.

Setelah polistiren terurai menjadi mikroplastik, ia dapat bertahan di tanah dan air selama berabad-abad, menyerap polutan lain, dan bahkan berpindah melalui rantai makanan.

Itu mengapa para ahli hingga sekarang terus berlomba untuk mengatasi polusi plastik dunia yang terus bertambah, salah satunya berasal dari jenis plastik polistiren.

Dalam sebuah studi baru, peneliti menemukan cara yang mungkin bisa menjadi solusi pengolah plastik di masa depan.

Baca juga: Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan

Melansir Earth, Senin (30/3/2026) peneliti dari Harbin Institute of Technology, China yang berkolaborasi dengan Stanford University di California menemukan kecoak Blaptica dubia dapat menghilangkan hampir 55 persen polistiren yang dimakannya dalam 42 hari.

Mikroba di dalam usus serangga ini menguraikan plastik secara kimiawi sementara metabolisme kecoak memproses beberapa produk penguraian tersebut sebagai bahan bakar.

Laju penguraian plastik yang cepat

Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa beberapa serangga bisa sedikit demi sedikit menggerogoti polistiren.

Namun, kecepatannya biasanya sangat rendah, dan sering kali sulit untuk memastikan apakah serangga tersebut benar-benar mengurai plastik itu secara kimiawi atau hanya menggilingnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

Dalam kondisi laboratorium yang terkontrol, setiap ekor kecoak memakan sekitar 6 mg polistiren per hari. Selama 42 hari, laporan penelitian menunjukkan bahwa mereka berhasil mengurai 54,9 persen dari plastik yang mereka makan.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi

Para peneliti menyimpulkan bahwa tingkat penguraiannya mencapai 3,3 mg per kecoak setiap hari, yang menurut mereka jauh lebih tinggi daripada serangga pemakan plastik lainnya.

Namun, temuan ini bukan kemudian menyimpulkan untuk melepaskan kecoak ke alam bebas untuk mengatasi polusi plastik.

Nilai sebenarnya dari temuan ini adalah bahwa sistem pencernaan kecoak tampak seperti sebuah "jalur pabrik" alami yang mampu menangani polimer sintetis yang sulit hancur.

Sehingga kecoak hanya menjadi model untuk menciptakan teknologi pengurai plastik yang lebih hebat di masa depan berdasarkan proses yang dilakukan kecoak.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Ecotechnology.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Swasta
Singapura Tetapkan Standar Manajemen Risiko Iklim bagi Bank, Investor, dan Asuransi
Singapura Tetapkan Standar Manajemen Risiko Iklim bagi Bank, Investor, dan Asuransi
Pemerintah
Viral Tak Sama dengan Valid, Ahli Soroti Pentingnya Visual dalam Praktik Greenwashing
Viral Tak Sama dengan Valid, Ahli Soroti Pentingnya Visual dalam Praktik Greenwashing
Swasta
Krisis Iklim Bikin Area Tanam Kopi Arabika Berkurang Tahun 2050
Krisis Iklim Bikin Area Tanam Kopi Arabika Berkurang Tahun 2050
Swasta
Melembagakan WFH: Hemat, Produktif, dan Hijau Sekaligus
Melembagakan WFH: Hemat, Produktif, dan Hijau Sekaligus
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau