KOMPAS.com - Polistiren adalah jenis plastik yang banyak digunakan karena ringan dan murah. Tapi di sisi lain, plastik ini tidak mudah terurai, mampu bertahan di lingkungan dalam waktu yang sangat lama.
Setelah polistiren terurai menjadi mikroplastik, ia dapat bertahan di tanah dan air selama berabad-abad, menyerap polutan lain, dan bahkan berpindah melalui rantai makanan.
Itu mengapa para ahli hingga sekarang terus berlomba untuk mengatasi polusi plastik dunia yang terus bertambah, salah satunya berasal dari jenis plastik polistiren.
Dalam sebuah studi baru, peneliti menemukan cara yang mungkin bisa menjadi solusi pengolah plastik di masa depan.
Baca juga: Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Melansir Earth, Senin (30/3/2026) peneliti dari Harbin Institute of Technology, China yang berkolaborasi dengan Stanford University di California menemukan kecoak Blaptica dubia dapat menghilangkan hampir 55 persen polistiren yang dimakannya dalam 42 hari.
Mikroba di dalam usus serangga ini menguraikan plastik secara kimiawi sementara metabolisme kecoak memproses beberapa produk penguraian tersebut sebagai bahan bakar.
Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa beberapa serangga bisa sedikit demi sedikit menggerogoti polistiren.
Namun, kecepatannya biasanya sangat rendah, dan sering kali sulit untuk memastikan apakah serangga tersebut benar-benar mengurai plastik itu secara kimiawi atau hanya menggilingnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.
Dalam kondisi laboratorium yang terkontrol, setiap ekor kecoak memakan sekitar 6 mg polistiren per hari. Selama 42 hari, laporan penelitian menunjukkan bahwa mereka berhasil mengurai 54,9 persen dari plastik yang mereka makan.
Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi
Para peneliti menyimpulkan bahwa tingkat penguraiannya mencapai 3,3 mg per kecoak setiap hari, yang menurut mereka jauh lebih tinggi daripada serangga pemakan plastik lainnya.
Namun, temuan ini bukan kemudian menyimpulkan untuk melepaskan kecoak ke alam bebas untuk mengatasi polusi plastik.
Nilai sebenarnya dari temuan ini adalah bahwa sistem pencernaan kecoak tampak seperti sebuah "jalur pabrik" alami yang mampu menangani polimer sintetis yang sulit hancur.
Sehingga kecoak hanya menjadi model untuk menciptakan teknologi pengurai plastik yang lebih hebat di masa depan berdasarkan proses yang dilakukan kecoak.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Ecotechnology.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya