Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penanganan Stunting Perlu Dilakukan dari Hulu

Kompas.com, 15 September 2023, 07:31 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Dalam menangani stunting, strategi yang dilakukan ialah menanganinya sejak hulu yaitu mempersiapkan kehamilan dengan baik.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, persiapan kehamilan dilakukan sejak calon pasangan pengantin belum menikah.

“Misalnya kita tahu sekarang ini remaja putri yang anemia kan ada 20 persen, jadi atasi dulu itu,” kata Hasto usai pengukuhan duta Bunda Anak Angkat Stunting (BAAS) di Markas Komando Daerah Militer III/Siliwangi, Bandung, Kamis (14/9/2023).

Baca juga: Tim Pendamping Keluarga Berperan Penting Cegah Stunting

Hasto mencontohkan, dalam mempersiapkan kehamilan, Jawa Barat menghadapi sejumlah tantangan yakni masih adanya angka pernikahan dini dan kehamilan yang tidak dikehendaki.

“Orang yang sudah hamil kemudian melahirkan usia 15 sampai 19 tahun itu menjadi tantangan sekarang ini yang perlu kita fokuskan. Kita ingin strategi sedikit ke hulu,” ungkap Hasto, sebagaimana dilansir Antara.

Di satu sisi, di perkotaan ada tantangan lain yaitu menunda pernikahan. Padahal, jika pasangan mengingkan anak dan sang ibu melahirkan di atas usia 35 tahun, akan timbul risiko.

“Karena perempuan dan laki-laki di atas 35 itu sudah mulai menua. Sehingga kalau melahirkan, kemungkinan terjadinya kelainan pada anak lebih besar,” ucap Hasto.

Baca juga: 6 Daerah Sabet Penghargan Penanganan Stunting dan Layak Anak

Hasto mengapresiasi gerakan percepatan penurunan stunting di Jawa Barat yang melibatkan para pemangku kepentingan dan semua elemen masyarakat sehingga menjadi lebih inklusif.

“Kita juga didukung oleh NGO (non-governmental organization) seperti INEY (Investing Nutrision and Early Year), negara-negara lain juga mendukung di Jawa Barat,” cakap Hasto.

“Harapan saya di akhir tahun ini, Jawa Barat angka prevalensi stuntingnya mencapai 17 persen,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi BKKBN Sukaryo Teguh Santoso menyampaikan, menyasar keluarga berisiko stunting memerlukan kemampuan literasi data dari para pemangku kepentingan.

Baca juga: Pemangku Kepentingan Harus Melek Data untuk Turunkan Stunting

Dia menuturkan, data dapat menjadi landasan menyasar keluarga yang masih berisiko guna menurunkan stunting.

“Karena kalau menyasar yang sudah stunting, keberhasilannya kecil, maka kuncinya ada di data,” kata Teguh di Jakarta, Senin (11/9/2023).

Saat ini, BKKBN memiliki data 13,5 juta Keluarga dengan Risiko Stunting (KRS) yang terdiri atas ibu hamil, ibu dengan bayi di bawah dua tahun (baduta), dan keluarga yang lingkungannya berisiko melahirkan bayi stunting.

“Kalau 13,5 juta ini didampingi dengan baik, kuantitasnya terdata dengan jelas, konvergensi sudah berjalan, edukasi sudah dilakukan, dan partisipasi masyarakat sudah dibangun, saya kira 13,5 juta ini bisa kita sasar dengan tepat,” ujarnya, sebagaimana dilansir Antara.

Dia menuturkan, apabila pemerintah fokus menyasar bayi di bawah lima tahun (balita) yang sudah dinyatakan stunting, maka peluang keberhasilan penanganannya hanya 20 persen.

Baca juga: Cegah Stunting, TeleCTG Bersama JICA Kembangkan Telemedicine

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau