Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herman Agustiawan
Anggota DEN 2009-2014

Anggota Dewan Energi Nasional periode 2009-2014

Swasembada Energi Bukan Mimpi (1)

Kompas.com, 1 Januari 2025, 10:54 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Perang Asimetris Vs Pengelolaan Energi

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Matra TNI-AL memerlukan banyak pasokan energi karena bertanggung jawab atas operasi laut serta pertahanan dan keamanan maritim (UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI).

Tugas dan tanggung jawab TNI-AL ini sangat penting, karena Indonesia memiliki empat wilayah strategis yang dilalui 40 persen kapal perdagangan dunia, yaitu: Selat Malaka, Sunda, Lombok, dan Selat Makassar.

Wilayah tersebut dibagi ke dalam tiga ALKI: ALKI I (Selat Malaka-Karimata-Sunda), ALKI II (Selat Makassar-Lombok), dan ALKI III (Selat Leti-Ombai).

ALKI I, khususnya Selat Malaka, menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang merupakan jalur laut terpendek dan tercepat antara pemasok migas dari Timur Tengah dengan pasar di Asia Timur dan Tenggara.

Baca juga: Menakar Peran Angkutan Laut guna Topang Ketahanan Energi Indonesia

Menurut Badan Informasi Energi AS (Energy Information Agency/EIA), pada tahun 2022, sekitar 16,1 juta Bpd crude, 6,8 juta Bpd (barrel per day) produk petrokimia dan 8 Bscfd (Barrel standard cubic feet per day) LNG diangkut setiap hari melalui selat Malaka.

Ini merupakan volume terbesar kedua di dunia setelah Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dan Samudera Hindia.

Ketahanan Energi di sini memainkan peran yang vital dalam menjamin kedaulatan negara dan menjaga wilayah perbatasan yang rawan konflik. Hal ini terutama di tengah tantangan global yang sangat dinamis dan semakin kompleks, termasuk ancaman Perang Asimetris (assymetric warfare) yang melibatkan banyak aktor.

Meskipun tanpa pasukan dan alat utama sistem persenjataan (Alutsista), daya hancur perang asimetris jauh lebih dahsyat ketimbang perang militer.

Untuk menghancurkan suatu negara, perang asimetris dapat dilakukan oleh pihak ketiga (proxy war), internet (cyberwarfare), mikroorganisme/virus (biological war), pelemahan mata uang (currency war), mengganggu pengelolaan energi (energy war) dan lain-lain.

Mengapa Pengelolaan Energi? Karena konsumsi energi mencerminkan tingkat produktivitas dari suatu negara. Ketahanan energi adalah kunci untuk menjaga produktivitas nasional dan kesejahteraan 282,5 juta penduduk Indonesia, yang mayoritas berasal dari kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Penduduk usia produktif Indonesia (15 - 64 tahun) kini telah mencapai 196,6 juta atau sekitar 70 persen dari total penduduk.

Sebagai antisipasi ledakan bonus demografi yang diperkirakan terjadi antara 2025 dan 2030, mereka yang berusia produktif ini harus diberikan lapangan pekerjaan, utamanya melalui pertumbuhan sektor produktif yang padat pasokan energi seperti industri dan transportasi yang bisa menyumbang hingga 60 persen terhadap PDB nasional.

Kepastian Hukum dan Bisnis Energi

Selain jaminan pasokan, ketahanan energi memastikan aksesibiltas masyarakat terhadap energi dengan harga terjangkau. Hal ini vital bagi masyarakat yang harus mengalokasikan hingga 30 persen pengeluaran rumah tangganya untuk biaya energi.

Pada saat yang sama mereka pun harus mampu memenuhi kebutuhan akibat pertumbuhan ekonomi yang memerlukan tambahan konsumsi energi sebesar 1,1 persen hingga 1,3 persen untuk setiap 1 persen pertumbuhan PDB.

Tambahan konsumsi energi ini penting untuk dicapai, mengingat target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun telah dicanangkan oleh pemerintah baru.

Baca juga: Sistem Penyimpanan Jadi Kunci Ketahanan Energi Terbarukan di Asia Tenggara

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau