Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Martina A. Langi
Dosen dan Peneliti

Ph.D in Forestry from University of Queensland Australia, MSc in Forest Restoration from Lakehead University Canada, dan Insinyur Kehutanan dari IPB Bogor

Konservasi Bukan Sekadar Konsep

Kompas.com - 09/01/2025, 09:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Melihat potensi keharmonisan antara manusia dan alam yang ditunjukkan oleh masyarakat adat melalui kearifan lokalnya, pendekatan ini juga dapat diterapkan dalam sektor pariwisata yang berpihak pada keberlanjutan.

Pariwisata adalah sektor penting bagi perekonomian Indonesia, tetapi sering kali justru menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Limbah plastik di pantai Bali, karang yang rusak di Raja Ampat, hingga hutan yang ditebangi demi vila dan hotel adalah contoh nyata dampak pariwisata massal yang tidak terkendali.

Namun, ekowisata menawarkan jalan keluar. Ekowisata adalah bentuk pariwisata yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal secara langsung.

Sayangnya, lagi-lagi tidak semua inisiatif ekowisata benar-benar sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Banyak tempat wisata yang memanfaatkan label “eko” hanya sebagai alat pemasaran.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memastikan bahwa ekowisata benar-benar dijalankan dengan standar tinggi yang melindungi alam dan melibatkan masyarakat lokal.

Meskipun ekowisata menawarkan solusi terhadap dampak buruk pariwisata massal, keberhasilannya memerlukan dukungan dari berbagai aspek, termasuk teknologi dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan.

Teknologi memiliki potensi besar untuk memperkuat upaya konservasi yang menjadi fondasi ekowisata sejati.

Sementara kebijakan yang berpihak pada lingkungan dapat memastikan bahwa inisiatif ekowisata tidak hanya menjadi slogan kosong, tetapi benar-benar membawa manfaat nyata bagi alam dan masyarakat lokal.

Kemajuan teknologi memberikan peluang besar untuk konservasi. Penggunaan satelit dan drone dapat memantau hutan secara real-time, sehingga pembalakan liar lebih mudah terdeteksi.

Teknologi blockchain bahkan dapat memastikan bahwa pendanaan untuk program konservasi tidak disalahgunakan.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Kebijakan yang mendukung keberlanjutan adalah fondasi utama. Pemerintah harus memberikan insentif kepada pelaku usaha yang mengadopsi praktik ramah lingkungan.

Misalnya, petani kecil yang beralih ke agroforestri atau pelaku wisata yang membangun fasilitas ramah lingkungan perlu mendapatkan dukungan berupa subsidi atau pengurangan pajak.

Selain itu, pendidikan lingkungan harus menjadi prioritas. Anak-anak di sekolah perlu diajarkan tentang pentingnya menjaga alam. Kesadaran tentang konservasi harus menjadi bagian dari budaya bangsa, bukan hanya diskusi elitis di ruang seminar.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa isu konservasi hanya relevan bagi pecinta alam atau aktivis lingkungan. Namun, kenyataannya, konservasi adalah kepentingan semua orang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau