Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Menyoal Praktik Pertambangan Tidak Ramah Kepentingan Daerah

Kompas.com, 5 Mei 2025, 15:36 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Jika perusahaan bersedia membuka komunikasi intensif dengan daerah, tentu “gap” ini bisa ditutup. Bahkan banyak hal yang bisa dilakukan oleh daerah untuk membantu perusahaan menutup “gap” tersebut.

Ada dua ide dari Gubernur Provinsi NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang sangat perlu diwujudkan di daerah-daerah pertambangan.

Pertama, mendorong terbentuknya “forum CSR” di tingkat daerah. Dan kedua, keharusan perusahaan untuk mengomunikasikan kebutuhan SDM kepada daerah, agar daerah ikut membantu memenuhinya dengan SDM-SDM lokal.

Memang ide ini belum berjalan, karena Lalu Iqbal baru menjabat dan sedang memperjuangkannya.

Namun, gagasan ini sangat layak untuk segera diwujudkan dan juga layak diterapkan di daerah lainnya.

Di Dompu sendiri, dengan triliunan rupiah uang yang telah digelontorkan selama masa eksplorasi, tidak ada yang benar-benar mengetahui sudah berapa banyak CSR dikeluarkan oleh perusahaan dan dalam bentuk apa saja, termasuk masyarakat setempat dan pemerintah daerah.

Bahkan tidak ada yang benar-benar mengetahui komposisi SDM yang digunakan oleh perusahaan.

Apakah sudah maksimal berusaha untuk menyerap SDM lokal atau justru sangat minimal. Berdasarkan informasi di lapangan yang saya peroleh selama masa penelitian di Dompu (sampai hari ini), masyarakat dan pemerintah daerah pun tidak mengetahuinya.

Sementara itu, saat masyarakat daerah ataupun pemerintah daerah berusaha untuk membuka jalur komunikasi untuk mendapatkan informasi-informasi tersebut, tingkat kesulitannya sangatlah tinggi.

Itupun jawaban pasti dari pihak perusahaan terkadang tak bisa langsung diperoleh, karena perusahaan biasanya beralasan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan kantor pusatnya di Jakarta atau bahkan perusahaan induk globalnya, tanpa kepastian waktu atas jawaban dari kantor pusat tersebut.

Sementara saban waktu aktifitas perusahaan terlihat dengan kasat mata oleh masyarakat setempat dan pemerintah daerah, seolah tidak perlu menunggu persetujuan dari masyarakat dan pemerintah lokal atas terus berlangsungnya aktifitas tersebut.

Hal-hal semacam inilah, dalam hemat saya, yang harus menjadi perhatian perusahaan tambang di daerah di satu sisi dan pemerintah pusat di sisi lain.

Bagaiamana mungkin perusahaan bisa beroperasi dengan “santainya” di daerah, tanpa merasa risih saat tidak berjuang untuk melakukan interaksi sebaik mungkin, apalagi bermanfaat dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Terlepas ada atau tidak ada aturan tertulis soal itu, secara moral dan etika, perusahaan wajib melakukan pendekatan khusus kepada daerah, baik kepada pemerintah daerah maupun kepada komunitas lokal, sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan etis dari perusahaan yang ingin “menyedot” harta kekayaan daerah yang sudah berada di bawah kaki masyarakat sejak dulu kala.

Sayangnya, sense of ethics dan sense of moral obligation semacam itu masih sangat minim di Dompu saat ini.

Pun saya cukup yakin, hal yang sama juga terjadi di daerah-daerah lain yang SDA-nya disedot keluar dari daerah di satu sisi, tapi pemerintah dan masyarakat daerahnya tak pernah diajak bicara secara serius sekaligus kurang dihormati di sisi lain.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau