KOMPAS.com - Investor semakin peduli dan menuntut perusahaan teknologi besar untuk bertanggung jawab atas risiko etis yang terkait dengan pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Dukungan pemegang saham untuk isu AI ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan isu lingkungan dan sosial secara umum.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan baru dari Morningstar Sustainalytics.
Melansir Edie, Kamis (21/5/2025), laporan menunjukkan dukungan pemegang saham terhadap isu AI rata-rata mencapai 30 persen. Angka tersebut hampir dua kali lipat daripada isu lingkungan dan sosial (16 persen) dalam musim proksi 2024.
Sebagian besar investor menargetkan raksasa teknologi Alphabet, Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft.
Fokus utama resolusi terkait AI yang diajukan oleh pemegang saham kepada perusahaan-perusahaan teknologi besar secara spesifik yakni pengawasan dewan direksi terhadap AI, transparansi seputar risiko sosial seperti disinformasi dan pelanggaran hak asasi manusia, serta manajemen etika sistem AI.
Baca juga: IPB Rilis Inovasi Berbasis AI untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan
Di antara perusahaan teknologi besar yang menjadi sasaran resolusi, Meta dan Alphabet adalah dua perusahaan yang paling menjadi sorotan investor.
Mereka percaya bahwa sistem iklan bertarget yang didukung AI di kedua perusahaan ini memainkan peran signifikan dalam memperluas penyebaran misinformasi.
Kekhawatiran ini mendorong investor untuk menuntut perusahaan agar lebih bertanggung jawab dan transparan dalam mengelola risiko etis AI, khususnya terkait dengan penyebaran informasi yang salah.
Manajer aset di Eropa menjadi yang terdepan atau paling proaktif dalam mendukung resolusi tata kelola AI di mana mereka mendukung sekitar 77 persen dari resolusi yang berkaitan dengan tata kelola AI.
Sebaliknya, manajer aset di Amerika Serikat hanya memberikan dukungan rata-rata 30 persen untuk resolusi AI yang sama.
Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat secara historis cenderung lebih enggan atau ragu-ragu untuk mendukung proposal yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan dan sosial yang lebih luas.
Meskipun ada keengganan umum tersebut, dukungan manajer aset AS untuk resolusi AI yang signifikan (41 persen) ternyata lebih tinggi daripada dukungan mereka untuk proposal-proposal besar terkait iklim dan sosial lainnya (35 persen).
Industri AI sendiri sebenarnya semakin menimbulkan kekhawatiran lingkungan.
Program Lingkungan PBB (UNEP) mencatat bahwa chip AI yang menjadi komponen kunci untuk menjalankan AI sangat bergantung pada penambangan "rare earth".
Penambangan ini diketahui berbahaya secara ekologis yang dapat merusak lingkungan secara signifikan.
AI generatif juga mengonsumsi energi hingga 33 kali lebih banyak daripada perangkat lunak tradisional.
Baca juga: Dow-Google Kembangkan Teknologi AI untuk Daur Ulang Plastik Lunak
Sementara sebagian besar energi yang digunakan untuk mengoperasikan AI ini masih berasal dari bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dan berkontribusi pada perubahan iklim.
Pusat data diperkirakan kebutuhan air untuk pendinginan server di pusat data sangat besar, menimbulkan kekhawatiran serius tentang kelangkaan air di beberapa wilayah.
Lebih lanjut, meskipun ada semangat baru di kalangan investor untuk mendorong tata kelola AI yang lebih baik laporan dari ShareAction mengungkapkan adanya ketidaksesuaian.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa banyak manajer aset, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam investasi, justru masih gagal dalam memenuhi standar dasar terkait isu-isu lingkungan dan sosial yang sudah mapan seperti iklim, ekosistem, dan hak asasi manusia.
Dalam laporannya, ShareAction menilai 76 manajer aset terbesar di dunia, yang secara kolektif mengawasi lebih dari 80 triliun dollar AS.
Sebanyak 87 persen dari mereka bahkan tidak memenuhi setengah dari 20 standar investasi bertanggung jawab yang dapat dicapai yang dinilai oleh ShareAction.
Standar-standar ini meliputi penetapan kebijakan penghentian penggunaan bahan bakar fosil, pembatasan investasi pada senjata kontroversial, penerapan perlindungan bagi keanekaragaman hayati global, dan membuat komitmen untuk melindungi hak asasi manusia.
“Jika sektor keuangan terus gagal mengatasi perubahan iklim, kerusakan alam, dan kesenjangan sosial, akan ada konsekuensi ekonomi yang besar, yang mengancam dunia yang aman dan sehat yang kita semua ingin tinggali.” kata Kepala penelitian sektor keuangan ShareAction, Claudia Gray.
Baca juga: Perempuan, Masyarakat Adat, dan Pemuda Jadi Bagian dari Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya