Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPB Rilis Inovasi Berbasis AI untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan

Kompas.com, 15 Mei 2025, 15:56 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - IPB University merilis tiga inovasi teknologi unggulan hasil riset di bidang pertanian untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Inovasi itu antara lain Komunitas Stasiun Cuaca Otomatis atau Automatic Weather Station Community (AWS-Community), varietas padi unggul IPB 12S, 13S, 14S, dan 15S, serta robot pendeteksi penyakit tanaman cabai berbasis kecerdasan buatan atau AI.

“Ini sebagai komitmen IPB University dalam menjawab tantangan pertanian modern melalui inovasi,” ungkap Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi, dalam keterangannya, Kamis (15/5/2025).

“Kami berkomitmen agar inovasi-inovasi ini tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan pertanian nasional,” imbuh dia.

Baca juga: IPB Soroti Bias Gender di Sektor Pertanian: Perempuan Tani Masih Terpinggirkan

Sementara itu, Rektor IPB University, Arif Satria, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki lebih dari 1.000 inovasi yang akan diperkenalkan kepada publik secara bertahap.

“Melalui peluncuran yang semakin rutin, kami berharap hasil riset ini dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama para petani,” ucap Arif.

Ia menekankan pentingnya keselarasan hasil riset dengan pemanfaatan di lapangan. Terutama bagi varietas padi unggulan yang telah dikembangkan di 26 provinsi.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengaku mengapresiasi peneliti IPB dalam pengembangan teknologi pertanian.

Baca juga: BRIN Kembangkan Finebubble, Tingkatkan Produktivitas Pertanian dan Peternakan

Sudaryono menyatakan, pengembangan sistem pertanian berbasis data dan AI penting dilakukan. Ia pun meminta agar hasil riset disederhanakan dan dikemas agar mudah dipahami dan digunakan oleh petani.

“Jangan sampai inovasi kalah dengan konten viral yang tidak berbasis data. Kita harus dorong teknologi dari perguruan tinggi agar benar-benar sampai ke tangan petani,” sebut dia.

Pihaknya mendukung adopsi inovasi teknologi oleh perguruan tinggi di tingkat nasional. Sudaryono secara pribadi turut membeli dan menyumbangkan 10 unit AWS-Community serta beberapa robot pendeteksi penyakit cabai.

Baca juga: Pakar Pertanian UGM Sebut Pemanasan Global Ancam Ketahanan Pangan Indonesia

“Kementan siap membeli benih unggul hasil penelitian IPB, termasuk varietas padi baru untuk memenuhi kebutuhan 11 juta hektare lahan pertanian setiap tahun,” tutur Sudaryono.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau