KOMPAS.com - Peneliti di Northeastern University di China memperkirakan bahwa pada tahun 2100, sebanyak 850 juta orang akan terdampak oleh berkurangnya aliran air dari sungai-sungai besar di dunia.
Puja Das, seorang peneliti dari Northeastern University, menyatakan bahwa perkiraan 850 juta orang yang akan terdampak kelangkaan air itu tiga kali lebih banyak dari estimasi sebelumnya.
Perkiraan populasi tersebut menurut Puja Das merupakan hal yang penting karena dapat memberikan gambaran pada pembuat kebijakan tentang apa yang akan terjadi terkait ketersediaan pangan, air, dan energi.
Baca juga: Tambang Emas di TN Meru Betiri Rusak Kualitas Air dan Habitat Satwa Dilindungi
Melansir Phys, Rabu (16/7/2025), dalam studi ini peneliti menggunakan model sistem bumi, simulasi komputer yang kompleks tentang proses-proses Bumi, seperti atmosfer, lautan, dan aktivitas manusia.
Analisis kemudian menunjukkan bahwa lima model sistem Bumi yang paling akurat memproyeksikan 40 persen dari 30 sungai utama dunia akan mengalami penurunan aliran air pada tahun 2100.
Kondisi ini akan memengaruhi populasi yang ukurannya 100 kali lipat populasi Kota New York, berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang hanya menyebutkan 260 juta orang.
"Kami memilih 30 daerah aliran sungai terbesar di seluruh dunia, termasuk sungai Amazon, Kongo, Gangga, Brahmaputra, dan Nil," ujarnya.
Baca juga: Pendanaan Solusi Berbasis Alam untuk Air Naik Dua Kali Lipat dalam 10 Tahun
"Kami kemudian mencoba melihat bagaimana limpasan di daerah aliran sungai tersebut atau ketersediaan air di daerah aliran sungai tersebut, ditampilkan dalam model iklim," terang Das.
Para peneliti juga menjalankan model tersebut terhadap lima skenario emisi karbon yang berbeda.
"Kami melihat bahwa jika dunia lebih hijau, ketersediaan air akan lebih tinggi dan lebih sedikit orang yang akan terdampak akibat penurunan ketersediaan air," kata Das.
"Dengan emisi karbon yang lebih rendah, kami menemukan bahwa 500 juta orang akan terdampak, bukan 900 juta orang, tetapi ketersediaan air tetap akan menurun di beberapa wilayah dunia," tambahnya.
Studi dipublikasikan di jurnal npj Climate and Atmospheric Science.
Baca juga: Polutan Baru Picu Krisis Air dan Kenaikan Biaya Hidup di Negara Berkembang
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya