“Temuan kami menawarkan wawasan baru tentang tingkat kematian anak burung yang disebabkan oleh belitan, dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk membuang dan mengganti material berbahaya seperti benang baler polipropilena, baik dari penggunaan pertanian maupun lingkungan, mengingat dampak buruknya terhadap anak burung,” tambahnya.
Bangau putih diketahui menggunakan bahan-bahan bekas buatan manusia ke dalam sarangnya. Alasan penggunaan bahan-bahan tersebut dalam membangun sarang belum sepenuhnya dipahami tetapi mungkin terkait dengan ketersediaan dan kelangkaan bahan-bahan alami sementara beberapa mungkin juga dikira makanan.
Pesan studi ini pun jelas. Polusi plastik bukan hanya ancaman di laut, tapi juga sangat berdampak buruk pada kehidupan di darat, bahkan dari benda sehari-hari seperti tali pengikat bal di pertanian.
Jika temuan-temuan ini diabaikan, lebih banyak burung akan menderita. Namun, jika masyarakat dan industri bertanggung jawab dengan membersihkan sampah, mengganti bahan yang lebih ramah lingkungan, ada peluang untuk menghentikan kematian-kematian ini sebelum terjadi.
Studi dipublikasikan di jurnal Ecological Indicators.
Baca juga: Plastik Jadi Campuran Aspal, Usulan Dosen UGM Tanggulangi Sampah
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya