Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Temukan Mikroplastik pada Darah, Urine, dan Amnion Manusia

Kompas.com, 16 Juli 2025, 10:31 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Komunitas Marapaima dan Yayasan Ecoton mengungkapkan bahwa mikroplastik ditemukan pada sampel urine, darah, dan amnion atau lapisan pembungkus embrio manusia.

Peneliti sekaligus mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, Muhammad Alvin Alvianto, menyampaikan ada 76 partikel mikroplastik dalam 26 sampel yang digunakan.

"Lalu pada amnion sebanyak 117 partikel dalam 11 sampel, serta pada urine sebanyak 52 partikel dari sembilan sampel," ujar Alvin dalam keterangannya, Rabu (16/7/2025).

Dia menjelaskan, penelitian dilakukan lantaran dunia tengah menghadapi kriris akibat plastik. Lebih dari 16.000 bahan kimia terdapat dalam produk plastik termasuk 5.776 zat aditif, 3.498 bahan pembantu proses, 1.975 bahan awal, dan 1.788 zat yang tidak sengaja ditambahkan.

Baca juga: Setiap Makanan Berisiko Terkontaminasi Mikroplastik dari Kemasan

"Setelah masuk ke tubuh, mikroplastik dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, kerusakan sel dan DNA, gangguan hormon, penurunan fungsi saraf, bahkan membahayakan janin karena sudah ditemukan dalam plasenta dan cairan amnion," kata Alvin.

Partikel berupa PE dan PET dalam plastik berisiko menurunkan daya ingat dan konsentrasi, menyebabkan demensia, hingga memicu gejala depresi dan kecemasan.

Mikroplastik yang terdeteksi di air mani, testis, cairan folikel, dan endometrium juga mengakibatkan penurunan jumlah serta motilitas sperma, mengganggu hormon, mengancam kesuburan dan perkembangan embrio.

"Pada organ ekskresi dan selama kehamilan, mikroplastik ditemukan di plasenta, urine, dan cairan ketuban, menyebabkan stres oksidatif, kerusakan DNA janin, dan gangguan hormonal," jelas Mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, Paksi Samudro.

Baca juga: Mikroplastik Bisa Bersatu dengan Ganggang dan Tenggelam ke Dasar Laut

Di pencernaan, partikel tersebut masuk melalui makanan, menetap di usus, hati, pankreas, dan lambung lalu memicu inflamasi, kerusakan mukosa, resistensi insulin, dan terkait dengan kanker pankreas.

Sedangkan dalam darah dan sistem kardiovaskular berpotensi meningkatkan inflamasi sistemik, mengganggu pembekuan darah, menyebabkan aritmia, apoptosis sel jantung, fibrosis, serta meningkatkan risiko gagal jantung dan stroke.

Desakan ke Pemerintah

Karena itu, Ecoton dan Marapaima mendesak pemerintah menghentikan produksi dan peredaran plastik sekali pakai, mewajibkan pelabelan bahaya kesehatan pada produk plastik, serta memperkuat penegakkan regulasi terhadap bahan kimia berbahaya.

Kedua, meminta pengaturan serta penghentian impor sampah plastik. Lainnya, mendorong sistem isi ulang produk dan mendukung transisi menuju ekosistem tanpa plastik melalui kebijakan yang berpihak pada kesehatan maupun keberlanjutan.

Baca juga: Lahan Pertanian Mengandung Mikroplastik 23 Kali Lebih Banyak dari Lautan

"Kepada produsen penghasil plastik, kami menuntut tanggung jawab penuh atas limbah yang dihasilkan, penghentian produksi kemasan berlebih dan sekali pakai, serta pengembangan produk yang aman, transparan, dan dapat digunakan kembali," ujar perwakilan Ecoton dan Marapaima.

Komunitas ini juga mengajak masyarakat menggunakan produk isu ulang, tidak menggunakan botol sekali pakai ataupun tutup gelas kertas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau