BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan DBS Indonesia

Dukung Pembiayaan Berkelanjutan, Bank DBS Indonesia Ambil Peran sebagai ESG Coordinator

Kompas.com, 8 Agustus 2025, 16:26 WIB
Sri Noviyanti,
Aningtias Jatmika,
ADW,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah urgensi perubahan iklim dan dorongan global menuju dekarbonisasi, sektor perbankan memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi.

Sebagai salah satu institusi keuangan terkemuka di Asia, DBS Bank Ltd (Bank DBS), tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga menjadi pendamping strategis bagi perusahaan yang tengah bertransformasi menuju ekonomi rendah karbon.

Sebagai bank yang mengintegrasikan prinsip environmental, social, and governance (ESG) ke dalam strategi bisnisnya, Bank DBS membiayai berbagai proyek energi bersih melalui instrumen, seperti green bonds dan sustainability-linked loans.

Dukungan itu diperkuat dengan kemitraan bersama pelaku industri energi terbarukan di Asia, termasuk Indonesia.

Pendampingan transisi energi

Bank DBS berperan tidak hanya sebagai penyedia dana, tetapi juga penasihat yang membantu perusahaan menyusun peta jalan transisi energi secara bertanggung jawab.

Langkah tersebut sejalan dengan target perusahaan mencapai net zero emissions dalam portofolio pembiayaannya pada 2050.

Baca juga: Cara Aman Berinvestasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi ala Bank DBS Indonesia

Salah satu kontribusi utama Bank DBS adalah pendampingan dalam penyusunan strategi transisi energi. Kontribusi ini mencakup identifikasi langkah-langkah konkret untuk beralih dari energi fosil ke sumber energi terbarukan, dengan tetap mempertimbangkan risiko operasional, finansial, dan reputasi yang mungkin timbul selama proses transisi.

Mandat ESG coordinator untuk social finance framework BRI

Di dalam negeri, peran strategis Bank DBS Indonesia dalam mendorong transisi energi semakin ditegaskan dengan mandatnya sebagai ESG coordinator untuk penyusunan social finance framework milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Nilai fase pertama kerangka pembiayaan sosial ini mencapai Rp 5 triliun.

Mandat tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap kapabilitas Bank DBS Indonesia di bidang pembiayaan berkelanjutan.

Prosesnya dilakukan secara menyeluruh (end-to-end), mulai dari tahap pengembangan hingga memperoleh second party opinion (SPO) dari S&P Global Ratings. Obligasi yang diterbitkan pun mendapat peringkat idAAA dari PEFINDO.

Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan, pihaknya bangga dapat mendampingi BRI sebagai ESG coordinator dalam merancang social finance framework yang kredibel dan selaras dengan standar internasional.

Baca juga: DBS Raih Triple Win di Euromoney Awards 2025, Sabet Gelar Worlds Best Bank Ketiga Kalinya

Menurutnya, kolaborasi itu mencerminkan komitmen Bank DBS sebagai mitra tepercaya untuk pertumbuhan bisnis berkelanjutan dengan memperluas akses pembiayaan inklusif dan mendorong dampak sosial yang nyata bagi masyarakat Indonesia.

“Hal ini sejalan dengan misi Bank DBS Indonesia sebagai bank yang purpose-driven dan berfokus pada pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Anthonius dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (6/8/2025).

Penerbitan Social Bond BRI dilakukan melalui skema Penawaran Umum Berkelanjutan dengan metode bookbuilding. Skema ini melibatkan sejumlah penjamin pelaksana emisi efek, termasuk PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia.

Instrumen tersebut ditujukan untuk mendukung proyek sosial yang mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi.

SPO dari S&P Global Ratings yang diselesaikan pada Kamis (20/2/2025), menyatakan bahwa Social Finance Framework BRI selaras dengan Social Bond Principles (ICMA 2023) dan Social Loan Principles (LMA/LSTA/APLMA 2023).

Rekam jejak pembiayaan berkelanjutan Bank DBS Indonesia

Bank DBS Indonesia diberi mandat sebagai ESG Coordinator untuk BRIBank DBS Indonesia Bank DBS Indonesia diberi mandat sebagai ESG Coordinator untuk BRI

Bank DBS Indonesia mencatatkan portofolio keuangan berkelanjutan senilai Rp 6,6 triliun pada 2024. Angka ini naik 9,34 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

DBS Vickers Indonesia juga berperan dalam pembiayaan proyek sosial, dengan transaksi obligasi sosial mencapai 352,9 juta dollar Singapura pada 2024 atau tumbuh 726,5 persen.

Selain itu, Bank DBS Indonesia juga menjadi satu-satunya penyedia layanan kustodian dan agen pinjaman sindikasi dalam kolaborasi bersama Asian Development Bank (ADB) dan Australian Climate Finance Partnership (ACFP) untuk pembiayaan hijau sebesar 15 juta dollar AS.

Baca juga: Intip Peran Bank DBS Indonesia Gerakkan Ekonomi Hijau dan Dukung Capaian NZE Nasional

Dana tersebut disalurkan melalui PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) untuk memperluas adopsi motor listrik dan infrastruktur penukaran baterai nasional.

Bank DBS Indonesia juga menjadi Mandated Lead Arranger untuk pembiayaan senilai 100 juta dollar AS pada proyek waste-to-energy dengan target operasi pada Oktober 2026, serta menyediakan layanan agen fasilitas dan agen jaminan.

Komitmen Bank DBS di bidang ESG tersebut pendapat pengakuan melalui berbagai penghargaan, seperti Triple A Sustainable Investing Awards (Best Corporate Trust Mandate untuk proyek Renewable Energy dan Waste-to-Energy), Euromoney Awards for Excellence 2024 (Indonesia’s Best Bank for ESG), Global Finance Sustainable Finance Awards 2025 (Best Bank for Sustainable Finance), dan Finance Asia Awards 2025 (Best Sustainable Bank dan Best Debt Capital Market).

Dengan portofolio pembiayaan hijau yang terus bertumbuh, mandat sebagai ESG Coordinator untuk BRI, serta keterlibatan dalam proyek strategis energi bersih, Bank DBS Indonesia menegaskan perannya sebagai katalisator perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan di Indonesia.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang

Terkini Lainnya
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau