KOMPAS.com - Sebagai bagian penting dari transisi energi global, energi terbarukan diposisikan sebagai pilihan bersih untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Akan tetapi, kata 'hijau' atau 'terbarukan' tidak lantas berarti tidak ada dampaknya.
Organisasi lingkungan dan para ahli memperingatkan bahwa label hijau tidak bisa disamakan dengan nol dampak. Sehingga mereka menekankan bahwa sangat penting untuk meninjau kembali cara penerapannya.
Melansir Euro News, Minggu (3/8/2025), meski manfaat lingkungannya tak terbantahkan, energi terbarukan tidak luput dari dampak negatif terhadap lingkungan.
Natalia Corbalán, juru bicara platform SOS Rural, berpendapat bahwa hijau berarti mengolah tanah, merawatnya, dan melindungi lingkungan.
Namun ia mempertanyakan penggunaan istilah tersebut secara sembarangan untuk mendeskripsikan teknologi-teknologi ini.
Baca juga: Proyek Energi Terbarukan Melonjak, Sayangnya Gugatan HAM-nya Juga Naik
Kasus yang paling nyata ada di provinsi Jaén, Spanyol. Di sana, empat proyek pembangkit listrik tenaga surya (fotovoltaik) di wilayah Lopera, ditambah 20 proyek lain yang direncanakan di wilayah tersebut, justru berpotensi menghilangkan lebih dari 100.000 pohon zaitun.
Situasi ini telah mendorong organisasi-organisasi seperti SOS Rural, Asociación Ecología y Libertad, dan platform Campiña Norte untuk mengajukan gugatan hukum makro untuk menghentikan pemasangan pembangkit listrik fotovoltaik yang berdampak pada lahan pertanian.
Masalahnya tidak terbatas pada energi surya. Energi angin lepas pantai juga menghadirkan tantangan lingkungannya sendiri, mulai dari perubahan habitat selama konstruksi hingga risiko tabrakan burung laut di daerah migrasi.
Selain itu, baik proyek pembangkit listrik tenaga surya (PV) maupun angin bergantung pada bahan-bahan yang diekstrak melalui proses penambangan. Secara paradoks, proses penambangan ini justru dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan.
Pengamatan ini juga berlaku untuk kendaraan listrik. Sebab, proses penambangan dan pengolahan material untuk baterai kendaraan listrik menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar keberlanjutan yang sebenarnya.
Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik
Para ahli sepakat bahwa energi terbarukan penting untuk memerangi perubahan iklim, tetapi mereka juga menekankan perlunya penerapan yang lebih terencana dan bertanggung jawab.
Daniel Jato Espino, peneliti di Universitas Internasional Valencia, memperingatkan bahwa kurangnya perencanaan strategis dapat menyebabkan penolakan sosial, hilangnya nilai lanskap, dan konflik dengan kegiatan tradisional seperti pertanian atau perikanan.
Kuncinya, menurut para ahli, terletak pada pemilihan lokasi yang tepat, menggarisbawahi pentingnya memilih "wilayah dengan dampak lingkungan rendah" untuk fasilitas-fasilitas energi terbarukan.
"Transisi energi tidak boleh menjadi perlombaan. Sebaliknya, transisi energi harus teratur, partisipatif, dan peka terhadap wilayah, dengan menghormati ekosistem lokal dan kegiatan ekonomi tradisional yang telah terbukti keberlanjutannya dari waktu ke waktu," papar Jato Espino.
Baca juga: Ide Pusat Data Masa Depan: Di Laut, Pakai Energi Angin, Hemat Listrik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya