Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Energi Terbarukan Saja Tak Cukup, Ahli Ingatkan Penerapan Bertanggung Jawab

Kompas.com, 12 Agustus 2025, 20:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagai bagian penting dari transisi energi global, energi terbarukan diposisikan sebagai pilihan bersih untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Akan tetapi, kata 'hijau' atau 'terbarukan' tidak lantas berarti tidak ada dampaknya.

Organisasi lingkungan dan para ahli memperingatkan bahwa label hijau tidak bisa disamakan dengan nol dampak. Sehingga mereka menekankan bahwa sangat penting untuk meninjau kembali cara penerapannya.

Melansir Euro News, Minggu (3/8/2025), meski manfaat lingkungannya tak terbantahkan, energi terbarukan tidak luput dari dampak negatif terhadap lingkungan.

Natalia Corbalán, juru bicara platform SOS Rural, berpendapat bahwa hijau berarti mengolah tanah, merawatnya, dan melindungi lingkungan.

Namun ia mempertanyakan penggunaan istilah tersebut secara sembarangan untuk mendeskripsikan teknologi-teknologi ini.

Baca juga: Proyek Energi Terbarukan Melonjak, Sayangnya Gugatan HAM-nya Juga Naik

Kasus yang paling nyata ada di provinsi Jaén, Spanyol. Di sana, empat proyek pembangkit listrik tenaga surya (fotovoltaik) di wilayah Lopera, ditambah 20 proyek lain yang direncanakan di wilayah tersebut, justru berpotensi menghilangkan lebih dari 100.000 pohon zaitun.

Situasi ini telah mendorong organisasi-organisasi seperti SOS Rural, Asociación Ecología y Libertad, dan platform Campiña Norte untuk mengajukan gugatan hukum makro untuk menghentikan pemasangan pembangkit listrik fotovoltaik yang berdampak pada lahan pertanian.

Masalahnya tidak terbatas pada energi surya. Energi angin lepas pantai juga menghadirkan tantangan lingkungannya sendiri, mulai dari perubahan habitat selama konstruksi hingga risiko tabrakan burung laut di daerah migrasi.

Selain itu, baik proyek pembangkit listrik tenaga surya (PV) maupun angin bergantung pada bahan-bahan yang diekstrak melalui proses penambangan. Secara paradoks, proses penambangan ini justru dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan.

Pengamatan ini juga berlaku untuk kendaraan listrik. Sebab, proses penambangan dan pengolahan material untuk baterai kendaraan listrik menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar keberlanjutan yang sebenarnya.

Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik

Para ahli sepakat bahwa energi terbarukan penting untuk memerangi perubahan iklim, tetapi mereka juga menekankan perlunya penerapan yang lebih terencana dan bertanggung jawab.

Daniel Jato Espino, peneliti di Universitas Internasional Valencia, memperingatkan bahwa kurangnya perencanaan strategis dapat menyebabkan penolakan sosial, hilangnya nilai lanskap, dan konflik dengan kegiatan tradisional seperti pertanian atau perikanan.

Kuncinya, menurut para ahli, terletak pada pemilihan lokasi yang tepat, menggarisbawahi pentingnya memilih "wilayah dengan dampak lingkungan rendah" untuk fasilitas-fasilitas energi terbarukan.

"Transisi energi tidak boleh menjadi perlombaan. Sebaliknya, transisi energi harus teratur, partisipatif, dan peka terhadap wilayah, dengan menghormati ekosistem lokal dan kegiatan ekonomi tradisional yang telah terbukti keberlanjutannya dari waktu ke waktu," papar Jato Espino.

Baca juga: Ide Pusat Data Masa Depan: Di Laut, Pakai Energi Angin, Hemat Listrik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau