Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Membunuh Burung Tropis, Bikin Populasinya Anjlok

Kompas.com, 12 Agustus 2025, 17:12 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jumlah populasi burung tropis menurun drastis. Sebuah penelitian kemudian menunjukkan bahwa panas ekstrem yang diperburuk oleh pemanasan global merupakan penyebab utama di balik penurunan ini.

Misalnya saja di wilayah tropis seperti Amazon dan Panama, populasi beberapa spesies burung telah anjlok hingga 90 persen bahkan di hutan hujan yang nyaris tak tersentuh.

Melansir New Scientist, Senin (11/8/2025) studi baru yang dilakukan peneliti di Barcelona Supercomputing Center antara tahun 1950 hingga 2020, intensifikasi panas ekstrem menyebabkan penurunan populasi burung darat di wilayah tropis sebesar 25 hingga 38 persen.

Tim peneliti belum mencoba memproyeksikan dampak berkelanjutan dari pemanasan Bumi menggunakan hasil ini.

Baca juga: 568 Sarang Diteliti dan Terkuaklah, Banyak Anak Burung Mati Tercekik Plastik

Meskipun demikian, salah satu peneliti studi Maximilian Kotz menyatakan, ini bukan gambaran yang bagus dan mengindikasikan bahwa masa depan burung tropis yang jelas mengkhawatirkan.

Sebagai informasi, Kotz bersama rekan-rekannya memulai penelitian dengan data populasi burung darat di seluruh dunia dari Living Planet Database. Studi ini tidak mencakup burung air atau burung laut.

Kemudian, mereka memperoleh data perusakan habitat dari Hyde Database of the Global Environment serta data cuaca dan iklim historis dari European Centre for Medium-range Weather Forecasts.

Setelah membandingkan seluruh data, para peneliti menemukan korelasi yang mungkin menjelaskan perubahan populasi burung yang teramati.

Di wilayah lintang menengah yakni antara 21 derajat dan 43 derajat lintang utara atau selatan, mereka menemukan bahwa perusakan habitat menjadi faktor utama penurunan populasi, sebuah kesimpulan yang konsisten dengan studi-studi lain.

Namun, di wilayah tropis, panas ekstrem merupakan faktor terbesar.

Kotz menjelaskan, di daerah ini burung-burung sering hidup mendekati batas toleransi panas mereka. Jika batas itu terlampaui, mereka bisa mati. Bahkan jika berhasil bertahan hidup, kondisi tubuh yang melemah mengurangi peluang mereka untuk berkembang biak.

Selanjutnya, tim peneliti menyelidiki sejauh mana intensifikasi panas ekstrem disebabkan oleh pemanasan global akibat ulah manusia.

Baca juga: Dampak Krisis Iklim, 500 Spesies Burung Diperkirakan Punah dalam Satu Abad

Hal ini memungkinkan mereka untuk memperkirakan bagaimana populasi burung akan bertahan tanpa adanya pemanasan global. Dengan demikian, para peneliti bisa memperkirakan seberapa besar penurunan jumlah burung yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Studi atribusi semacam ini telah lama digunakan untuk mengukur sejauh mana peristiwa cuaca ekstrem disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, Kotz mengatakan, sejauh pengetahuannya, ini adalah studi pertama yang menggunakannya untuk meneliti dampak ekologis dengan cara ini.

Lebih lanjut, Kotz mengakui ada banyak kekosongan dalam data populasi burung, terutama di wilayah tropis, namun ia percaya data yang ada sudah cukup untuk membuat kesimpulan. Ia menambahkan, justru minimnya data di daerah tropis akan menyebabkan perkiraan dampak yang lebih rendah dari kenyataannya.

Studi dipublikasikan di Nature Ecology & Evolution.

Baca juga: Bagaimana Krisis Iklim Bikin Gajah dan Manusia Bertengkar? Ahli Jelaskan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau