JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyemprotkan air bertekanan tinggi dan melepaskan mikroba untuk mengurai pencemar organik di Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta Utara.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk mengatasi kemunculan busa di Sungai BKT.
Hasil simulasi penyemprotan dan penyebaran mikroba akan menjadi acuan penyusunan standar operasional prosedur penanganan busa di 13 sungai Jakarta.
“Penanganan busa harus menjadi bagian dari program pemulihan kualitas air jangka panjang yang terintegrasi,” ungkap Asep dalam keterangannya, Rabu (12/8/2025).
Baca juga: Viral Busa Muncul di Kanal Banjir Timur Jakut, DLH DKI Cek Sampel Air
Mikroba tersebut akan menguraikan polutan secara biologis atau biodegradasi. Dalam uji coba, DLH menggunakan 10.000 liter air tawar untuk penyemprotan fisik dari darat dan air. Lalu 2.500 liter air yang dicampur 4 liter cairan mikroorganisme untuk degradasi polutan.
“Penyemprotan dilakukan dengan berbagai tipe pancaran, ukuran nozzle, dan lokasi berbeda,” kata Kepala Seksi Operasi Kebakaran Dinas Penanggulangan Kebakaran, M Tasor.
Sementara itu, Analis Lingkungan DLH DKI Jakarta, Ria Triany, menuturkan busa di Sungai BKT diakibatkan tingginya kadar bahan organik, serta senyawa kimia surfaktan sintetis dari limbah rumah tangga maupun usaha. Turbulensi di pintu air akhirnya memicu pembentukan busa.
Pihaknya juga akan mengawasi pelaku usaha skala kecil, yang wajib memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL). Selain itu, mereka harus mengelola limbah cair yang dihasilkan.
Baca juga: DLH Jabar Denda Rp 3,5 Miliar Perusahaan yang Cemari Sungai Citarum
DLH mencatat, lima sungai utama Jakarta yakni Sungai Ciliwung, Cipinang, Sunter, Cideng, dan Grogol tercemar berat.
Berdasarkan ridet bersama Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK UI), pihaknya menemukan mayoritas limbah grey water atau limbah dari mencuci, mandi, dan memasak langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan.
“Grey water yang belum terolah masih sangat tinggi, yaitu 95 persen di Ciliwung, 91 persen di Cipinang, 87 persen di Sunter, 62 persen di Cideng, dan 80 persen di Grogol," ungkap Peneliti LEMTEK UI, Mochamad Adhiraga Pratama, dalam keterangannya, Jumat (8/8/2025).
Dia menekankan, pencemaran sungai diperparah aktivitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pasar tradisional, rumah pemotongan hewan (RPH) unggas, hingga peternakan yang belum memiliki sistem pengolahan air limbah.
"Ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan air limbah domestik kita masih belum menyentuh seluruh aspek,” ucap Adhiraga.
Baca juga: Tingkat Merkuri Sungai-sungai Dunia Berlipat Ganda Pasca-Revolusi Industri
Sebaliknya, peneliti menyatakan pengolahan limbah domestik jenis black water, air limbah dari toilet yang mengandung tinja, urine, dan bahan organik, sudah relatif baik. Tingkat pengelolaannya mencapai 95-98 persen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya