Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Busa Kembali Muncul, DLH DKI Siram Mikroba ke Sungai BKT

Kompas.com, 14 Agustus 2025, 12:02 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyemprotkan air bertekanan tinggi dan melepaskan mikroba untuk mengurai pencemar organik di Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta Utara. 

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk mengatasi kemunculan busa di Sungai BKT.

Hasil simulasi penyemprotan dan penyebaran mikroba akan menjadi acuan penyusunan standar operasional prosedur penanganan busa di 13 sungai Jakarta.

“Penanganan busa harus menjadi bagian dari program pemulihan kualitas air jangka panjang yang terintegrasi,” ungkap Asep dalam keterangannya, Rabu (12/8/2025).

Baca juga: Viral Busa Muncul di Kanal Banjir Timur Jakut, DLH DKI Cek Sampel Air

Mikroba tersebut akan menguraikan polutan secara biologis atau biodegradasi. Dalam uji coba, DLH menggunakan 10.000 liter air tawar untuk penyemprotan fisik dari darat dan air. Lalu 2.500 liter air yang dicampur 4 liter cairan mikroorganisme untuk degradasi polutan.

“Penyemprotan dilakukan dengan berbagai tipe pancaran, ukuran nozzle, dan lokasi berbeda,” kata Kepala Seksi Operasi Kebakaran Dinas Penanggulangan Kebakaran, M Tasor.

Sementara itu, Analis Lingkungan DLH DKI Jakarta, Ria Triany, menuturkan busa di Sungai BKT diakibatkan tingginya kadar bahan organik, serta senyawa kimia surfaktan sintetis dari limbah rumah tangga maupun usaha. Turbulensi di pintu air akhirnya memicu pembentukan busa.

Pihaknya juga akan mengawasi pelaku usaha skala kecil, yang wajib memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL). Selain itu, mereka harus mengelola limbah cair yang dihasilkan.

Baca juga: DLH Jabar Denda Rp 3,5 Miliar Perusahaan yang Cemari Sungai Citarum

Sugai Jakarta Tercemar

DLH mencatat, lima sungai utama Jakarta yakni Sungai Ciliwung, Cipinang, Sunter, Cideng, dan Grogol tercemar berat.

Berdasarkan ridet bersama Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK UI), pihaknya menemukan mayoritas limbah grey water atau limbah dari mencuci, mandi, dan memasak langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan.

“Grey water yang belum terolah masih sangat tinggi, yaitu 95 persen di Ciliwung, 91 persen di Cipinang, 87 persen di Sunter, 62 persen di Cideng, dan 80 persen di Grogol," ungkap Peneliti LEMTEK UI, Mochamad Adhiraga Pratama, dalam keterangannya, Jumat (8/8/2025).

Dia menekankan, pencemaran sungai diperparah aktivitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pasar tradisional, rumah pemotongan hewan (RPH) unggas, hingga peternakan yang belum memiliki sistem pengolahan air limbah.

"Ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan air limbah domestik kita masih belum menyentuh seluruh aspek,” ucap Adhiraga.

Baca juga: Tingkat Merkuri Sungai-sungai Dunia Berlipat Ganda Pasca-Revolusi Industri

Sebaliknya, peneliti menyatakan pengolahan limbah domestik jenis black water, air limbah dari toilet yang mengandung tinja, urine, dan bahan organik, sudah relatif baik. Tingkat pengelolaannya mencapai 95-98 persen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau