KOMPAS.com - Analisis dari Carbon Brief menunjukkan bahwa dua negara ekonomi terbesar di Asia, India dan China, masih berinvestasi pada batu bara meskipun mereka sedang gencar memperluas energi terbarukan.
Menurut analisis terbaru, China dan India bersama-sama menyumbang hampir 87 persen dari proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang diusulkan di dunia pada paruh pertama tahun 2025.
Temuan ini menyoroti bagaimana transisi energi global ditarik ke dua arah yang berlawanan.
Sementara banyak negara sedang menghentikan penggunaan batu bara secara bertahap, dua negara ekonomi terbesar di Asia tersebut masih terus memperluasnya, di samping pengembangan energi terbarukan.
Melansir Down to Earth, Sabtu (1/9/2025), laporan yang diterbitkan oleh Carbon Brief dan didasarkan pada data dari Global Coal Plant Tracker milik Global Energy Monitor (GEM), menunjukkan bahwa antara Januari hingga Juni tahun ini China mengusulkan kapasitas batu bara baru sebesar 74,7 gigawatt (GW). Sedangkan India mengusulkan 12,8 GW.
Sebagai perbandingan, gabungan negara-negara lain di seluruh dunia hanya mengusulkan sekitar 11 GW proyek baru.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun China dan India terus menambah jumlah energi surya dan angin hingga mencapai rekor, mereka juga menggantungkan pada batu bara untuk keamanan energi dan permintaan industri.
Baca juga: Transisi Energi Eropa: Surya Meraja, Tendang Batu Bara ke Titik Terendahnya
Hal ini mempersulit jalur global untuk mencapai target iklim.
Laporan juga mencatat bahwa hampir semua pembangkit listrik tenaga batu bara baru yang mulai beroperasi atau memulai konstruksi pada paruh pertama tahun 2025 terkonsentrasi di Asia, dengan China sebagai pemimpinnya.
Negara ini mengoperasikan 21 GW kapasitas batu bara baru dalam enam bulan, yang merupakan tingkat tertinggi dalam sembilan tahun.
Jika laju ini terus berlanjut, total penambahannya bisa mencapai 80 GW pada akhir tahun, jumlah terbesar sejak tahun 2016.
Peningkatan tajam ini, menurut para analis, berasal dari krisis energi China pada tahun 2021-2022. Krisis tersebut mendorong para pembuat kebijakan untuk memprioritaskan batu bara guna mencegah kekurangan pasokan.
Namun, laporan ini juga menunjukkan bahwa meskipun pembangunan pembangkit batu bara sedang booming, penggunaan batu bara tidak meningkat secara proporsional.
Emisi karbon dioksida China justru turun sekitar 1 persen pada paruh pertama tahun 2025, berkat pesatnya pertumbuhan energi terbarukan seperti surya, angin, dan tenaga air.
Banyak pembangkit batu bara baru yang dibangun sebenarnya berfungsi sebagai kapasitas cadangan, yang dirancang untuk beroperasi hanya selama periode permintaan puncak.
Baca juga: IEA: Emisi Metana Tambang Batu Bara Indonesia Terbesar Ketiga Dunia
Sementara India menunjukkan gambaran yang berbeda.
Pada bulan Maret 2025, kapasitas energi terbarukan di negara tersebut telah melampaui 220 GW, sebuah tonggak penting yang memperkuat target mereka sebesar 500 GW pada tahun 2030.
Namun, batu bara masih menjadi pusat bauran energi India, menyuplai sekitar 70 persen dari produksi listrik.
Analisis Carbon Brief menunjukkan bahwa India berencana untuk menambah sekitar 90 GW kapasitas batu bara dalam tujuh tahun ke depan atau sekitar 60 persen lebih banyak dari target sebelumnya.
Pada paruh pertama tahun ini, India telah mengoperasikan 5,1 GW pembangkit batu bara baru, dibandingkan dengan 4,2 GW pada periode yang sama tahun lalu.
Tren di China dan India ini sangat kontras dengan wilayah lain.
Di Eropa, penggunaan batu bara sedang dalam proses dihentikan. Irlandia telah menutup pembangkit batu bara terakhirnya pada bulan Juni 2025, dan banyak negara Uni Eropa berencana menghentikannya secara total antara tahun 2029 hingga 2033.
Di Amerika Latin, laporan tersebut menemukan bahwa proposal pembangkit batu bara baru hampir tidak ada, yang secara efektif menandakan berakhirnya masa depan batu bara di wilayah tersebut.
Perbedaan ini menimbulkan tantangan besar bagi target Persetujuan Paris untuk membatasi pemanasan global hingga 1.5 derajat C.
Baca juga: Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya