Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jadi Champion Energi Bersih, India dan China Tetap Dominasi Proyek PLTU Baru

Kompas.com, 1 September 2025, 16:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis dari Carbon Brief menunjukkan bahwa dua negara ekonomi terbesar di Asia, India dan China, masih berinvestasi pada batu bara meskipun mereka sedang gencar memperluas energi terbarukan.

Menurut analisis terbaru, China dan India bersama-sama menyumbang hampir 87 persen dari proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang diusulkan di dunia pada paruh pertama tahun 2025.

Temuan ini menyoroti bagaimana transisi energi global ditarik ke dua arah yang berlawanan.

Sementara banyak negara sedang menghentikan penggunaan batu bara secara bertahap, dua negara ekonomi terbesar di Asia tersebut masih terus memperluasnya, di samping pengembangan energi terbarukan.

Melansir Down to Earth, Sabtu (1/9/2025), laporan yang diterbitkan oleh Carbon Brief dan didasarkan pada data dari Global Coal Plant Tracker milik Global Energy Monitor (GEM), menunjukkan bahwa antara Januari hingga Juni tahun ini China mengusulkan kapasitas batu bara baru sebesar 74,7 gigawatt (GW). Sedangkan India mengusulkan 12,8 GW.

Sebagai perbandingan, gabungan negara-negara lain di seluruh dunia hanya mengusulkan sekitar 11 GW proyek baru.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun China dan India terus menambah jumlah energi surya dan angin hingga mencapai rekor, mereka juga menggantungkan pada batu bara untuk keamanan energi dan permintaan industri.

Baca juga: Transisi Energi Eropa: Surya Meraja, Tendang Batu Bara ke Titik Terendahnya

Hal ini mempersulit jalur global untuk mencapai target iklim.

Laporan juga mencatat bahwa hampir semua pembangkit listrik tenaga batu bara baru yang mulai beroperasi atau memulai konstruksi pada paruh pertama tahun 2025 terkonsentrasi di Asia, dengan China sebagai pemimpinnya.

Negara ini mengoperasikan 21 GW kapasitas batu bara baru dalam enam bulan, yang merupakan tingkat tertinggi dalam sembilan tahun.

Jika laju ini terus berlanjut, total penambahannya bisa mencapai 80 GW pada akhir tahun, jumlah terbesar sejak tahun 2016.

Peningkatan tajam ini, menurut para analis, berasal dari krisis energi China pada tahun 2021-2022. Krisis tersebut mendorong para pembuat kebijakan untuk memprioritaskan batu bara guna mencegah kekurangan pasokan.

Namun, laporan ini juga menunjukkan bahwa meskipun pembangunan pembangkit batu bara sedang booming, penggunaan batu bara tidak meningkat secara proporsional.

Emisi karbon dioksida China justru turun sekitar 1 persen pada paruh pertama tahun 2025, berkat pesatnya pertumbuhan energi terbarukan seperti surya, angin, dan tenaga air.

Banyak pembangkit batu bara baru yang dibangun sebenarnya berfungsi sebagai kapasitas cadangan, yang dirancang untuk beroperasi hanya selama periode permintaan puncak.

Baca juga: IEA: Emisi Metana Tambang Batu Bara Indonesia Terbesar Ketiga Dunia

Sementara India menunjukkan gambaran yang berbeda.

Pada bulan Maret 2025, kapasitas energi terbarukan di negara tersebut telah melampaui 220 GW, sebuah tonggak penting yang memperkuat target mereka sebesar 500 GW pada tahun 2030.

Namun, batu bara masih menjadi pusat bauran energi India, menyuplai sekitar 70 persen dari produksi listrik.

Analisis Carbon Brief menunjukkan bahwa India berencana untuk menambah sekitar 90 GW kapasitas batu bara dalam tujuh tahun ke depan atau sekitar 60 persen lebih banyak dari target sebelumnya.

Pada paruh pertama tahun ini, India telah mengoperasikan 5,1 GW pembangkit batu bara baru, dibandingkan dengan 4,2 GW pada periode yang sama tahun lalu.

Tren di China dan India ini sangat kontras dengan wilayah lain.

Di Eropa, penggunaan batu bara sedang dalam proses dihentikan. Irlandia telah menutup pembangkit batu bara terakhirnya pada bulan Juni 2025, dan banyak negara Uni Eropa berencana menghentikannya secara total antara tahun 2029 hingga 2033.

Di Amerika Latin, laporan tersebut menemukan bahwa proposal pembangkit batu bara baru hampir tidak ada, yang secara efektif menandakan berakhirnya masa depan batu bara di wilayah tersebut.

Perbedaan ini menimbulkan tantangan besar bagi target Persetujuan Paris untuk membatasi pemanasan global hingga 1.5 derajat C.

Baca juga: Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau