Sementara itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko mengungkapkan, kondisi badak Sumatera di Kalimantan menjadi salah satu alasan mendesak pembangunan fasilitas ini.
Dari hasil monitoring, saat ini hanya tersisa dua individu badak betina di Kalimantan, yang jelas tidak mungkin berkembang biak secara alami.
“Oosit (sel telur) sudah diambil untuk disimpan di biobank. Ke depan akan dilakukan program bayi tabung dengan sperma jantan dari Sumatera. Harapannya, populasi badak di Kalimantan bisa tumbuh kembali, bahkan suatu saat dilepasliarkan,” ujar Satyawan.
Baca juga: Reforestasi 23.665 Hektare Hutan di Kalteng, Warga dan Satwa Langka Jadi Bagiannya
Lewat kolaborasi ini, Kementerian Kehutanan dan IPB menegaskan komitmen memperkuat konservasi satwa liar Indonesia. Dengan teknologi ART dan biobank, diharapkan langkah penyelamatan spesies terancam punah bisa lebih terukur, modern, dan sustainable (berkelanjutan).
"Kita berharap biobank center yang akan dibangun di sini secara serius sehingga bisa betul-betul menjadi pusat penelitian sehingga nanti para peneliti asing yang datang ke kita untuk mengerjakan secara bersama-sama. Artinya keanekaragaman hayati kita yang dibawa keluar untuk di studi, jadi sekali lagi IPB akan menjadi Pusat penelitian," tambah Menhut diakhir wawancaranya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya