Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tangkap dan Simpan Emisi CO2 di Bawah Tanah? Riset Ungkap Cuma Bisa Dilakukan 200 Tahun

Kompas.com, 8 September 2025, 19:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Berdasarkan riset terbaru, kapasitas planet untuk menyimpan CO2 di bawah tanah jauh lebih terbatas dari yang diperkirakan.

Hal ini mengindikasikan bahwa dunia bisa kehabisan tempat penyimpanan karbon dalam dua abad ke depan.

Penyimpanan karbon dioksida yang berhasil ditangkap ke dalam reservoir di bawah tanah telah digadang-gadang oleh pemerintah dan industri sebagai cara untuk mencapai emisi net-zero, yang memungkinkan mereka tetap menggunakan bahan bakar fosil.

Kapasitas planet untuk menyimpan CO2 ini dianggap sangat besar. Industri memperkirakan kapasitas penyimpanan geologis global sekitar 14.000 gigaton CO2.

"Hingga saat ini, kapasitas penyimpanan pada dasarnya dianggap tidak terbatas," kata Joeri Rogelj dari Imperial College London, Inggris, dikutip dari New Scientist, Rabu (3/9/2025).

Baca juga: Peneliti: Penghitungan Karbon Secara Mandiri oleh Perusahaan Tak Akurat

Namun, bersama dengan rekan-rekannya, Rogelj melakukan analisis lebih lanjut terhadap cadangan penyimpanan dan menemukan bahwa volume ruang penyimpanan yang dapat digunakan mungkin jauh lebih kecil.

Mereka mengkaji formasi geologis yang stabil dan mengecualikan area yang memiliki faktor risiko, seperti berdekatan dengan kota besar, wilayah sensitif lingkungan, atau zona rawan gempa. Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut, mereka menyimpulkan bahwa kapasitas penyimpanan geologis yang tersedia secara global hanya sekitar 1.460 gigaton.

"Dulu kita menganggap potensi penyimpanan tidak terbatas. Tapi sekarang, potensi penyimpanan CO2 yang bisa kita gunakan secara bijak justru menjadi sumber daya yang sangat berharga," kata Rogelj.

"Kami menemukan bahwa potensi praktis yang seharusnya dipertimbangkan untuk penyimpanan CO2 ternyata lebih kecil 10 kali lipat dari perkiraan sebelumnya," terangnya.

Banyak proyeksi iklim mengasumsikan bahwa diperlukan sejumlah penyimpanan karbon di bawah tanah agar dunia dapat mencapai target emisi net-zero.

Seberapa banyak penyimpanan yang akan digunakan sangat bergantung pada seberapa jauh dunia berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Para peneliti memperingatkan jika kita terus menggunakan penyimpanan geologis untuk mengubur emisi dalam jumlah besar dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil setelah target net-zero tercapai, cadangan penyimpanan karbon dunia kemungkinan akan habis pada tahun 2200.

Rogelj berpendapat bahwa temuan ini berarti kita harus menggunakan penyimpanan karbon bawah tanah secara hemat, hanya ketika semua opsi dekarbonisasi lain sudah tidak bisa dilakukan.

Misalnya, daripada menangkap emisi dari pembangkit listrik batu bara atau gas dan menyimpannya di bawah tanah, ia menyarankan agar perekonomian beralih ke sumber energi yang bebas emisi jika memungkinkan.

Dengan demikian, kapasitas penyimpanan bawah tanah dapat dialihkan untuk CO2 yang diambil menggunakan teknologi seperti Direct Air Capture (DAC), sebuah teknologi yang menyedot kelebihan CO2 langsung dari udara.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Kue Delapan Jam, 'Waktu' Jadi Bahan Utama
Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau