KOMPAS.com - Berdasarkan riset terbaru, kapasitas planet untuk menyimpan CO2 di bawah tanah jauh lebih terbatas dari yang diperkirakan.
Hal ini mengindikasikan bahwa dunia bisa kehabisan tempat penyimpanan karbon dalam dua abad ke depan.
Penyimpanan karbon dioksida yang berhasil ditangkap ke dalam reservoir di bawah tanah telah digadang-gadang oleh pemerintah dan industri sebagai cara untuk mencapai emisi net-zero, yang memungkinkan mereka tetap menggunakan bahan bakar fosil.
Kapasitas planet untuk menyimpan CO2 ini dianggap sangat besar. Industri memperkirakan kapasitas penyimpanan geologis global sekitar 14.000 gigaton CO2.
"Hingga saat ini, kapasitas penyimpanan pada dasarnya dianggap tidak terbatas," kata Joeri Rogelj dari Imperial College London, Inggris, dikutip dari New Scientist, Rabu (3/9/2025).
Baca juga: Peneliti: Penghitungan Karbon Secara Mandiri oleh Perusahaan Tak Akurat
Namun, bersama dengan rekan-rekannya, Rogelj melakukan analisis lebih lanjut terhadap cadangan penyimpanan dan menemukan bahwa volume ruang penyimpanan yang dapat digunakan mungkin jauh lebih kecil.
Mereka mengkaji formasi geologis yang stabil dan mengecualikan area yang memiliki faktor risiko, seperti berdekatan dengan kota besar, wilayah sensitif lingkungan, atau zona rawan gempa. Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut, mereka menyimpulkan bahwa kapasitas penyimpanan geologis yang tersedia secara global hanya sekitar 1.460 gigaton.
"Dulu kita menganggap potensi penyimpanan tidak terbatas. Tapi sekarang, potensi penyimpanan CO2 yang bisa kita gunakan secara bijak justru menjadi sumber daya yang sangat berharga," kata Rogelj.
"Kami menemukan bahwa potensi praktis yang seharusnya dipertimbangkan untuk penyimpanan CO2 ternyata lebih kecil 10 kali lipat dari perkiraan sebelumnya," terangnya.
Banyak proyeksi iklim mengasumsikan bahwa diperlukan sejumlah penyimpanan karbon di bawah tanah agar dunia dapat mencapai target emisi net-zero.
Seberapa banyak penyimpanan yang akan digunakan sangat bergantung pada seberapa jauh dunia berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Para peneliti memperingatkan jika kita terus menggunakan penyimpanan geologis untuk mengubur emisi dalam jumlah besar dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil setelah target net-zero tercapai, cadangan penyimpanan karbon dunia kemungkinan akan habis pada tahun 2200.
Rogelj berpendapat bahwa temuan ini berarti kita harus menggunakan penyimpanan karbon bawah tanah secara hemat, hanya ketika semua opsi dekarbonisasi lain sudah tidak bisa dilakukan.
Misalnya, daripada menangkap emisi dari pembangkit listrik batu bara atau gas dan menyimpannya di bawah tanah, ia menyarankan agar perekonomian beralih ke sumber energi yang bebas emisi jika memungkinkan.
Dengan demikian, kapasitas penyimpanan bawah tanah dapat dialihkan untuk CO2 yang diambil menggunakan teknologi seperti Direct Air Capture (DAC), sebuah teknologi yang menyedot kelebihan CO2 langsung dari udara.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya