KOMPAS.com - Seperti lainnya, industri semen dituntut untuk mendekarbonisasi bisnisnya sehingga bisa menjawab tantangan iklim.
Norwegia dan India memberikan dua contoh strategi dekarbonisasi dengan memanfaatkan teknologi Carbon, Capture, Storage / Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS).
Olav Oye dari Bellona Foundation, mengatakan bahwa Heidelberg Materials Sement Norge melirik teknologi CCS/CCUS sejak 2005 dan terus mengembangkannya selama 15 tahun.
"Menjajaki dan penyedia teknologi untuk mendapatkan use case yang sangat penting karena akan mampu meningkatkan pembelian di CCS/CCUS. Karena CCS/CCUS meningkatkan biaya produksi semen dan secara bersamaan juga melakukan penggantian bahan bakar," ujar Olav dalam webinar, Senin (8/9/2025).
Ia menambahkan, sekitar 80 persen bahan bakar di industri semen Norwegia kini sudah menggunakan alternatif ramah lingkungan, seperti biomassa.
Baca juga: Rumput Laut di Pantai Serap Karbon, tetapi Juga Sumber Emisi Metara
Meski begitu, tantangan tetap ada. Olav menyebut kesenjangan biaya antara sistem perdagangan karbon Uni Eropa dan pajak karbon terlalu besar untuk dijangkau banyak perusahaan. Karena itu, sejumlah perusahaan akhirnya berbagi infrastruktur CCS/CCUS.
"Sebaiknya negara-negara juga perlu berbagi infrastruktur CCS/CCUS karena akan mampu mengurangi biayanya," kata Olav.
India, yang menargetkan net zero emission (NZE) pada 2070, juga menghadapi persoalan serupa.
Menurut Senior Counsellor - Godrej GBC Hyderabad India, V Kannan, langkah-langkah seperti efisiensi energi, pengurangan faktor klinker, dan penggunaan bahan bakar alternatif hanya bisa menyumbang 25–30 persen dekarbonisasi.
"Kontributor utama dalam dekarbonisasi industri semen adalah teknologi CCS/CCUS. Dari perspektif ideal, upaya apa pun mampu mengurangi emisi CO2, namun belum sampai ke net zero," ujar Kannan.
Ia mendorong pemerintah India memperkuat pasar karbon dengan insentif. "Upaya pengurangan CO2 harus diberi insentif sertifikat dekarbonisasi sebagai jaminan. Ini adalah salah satu langkah yang diambil pemerintah," tuturnya.
Selain CCS/CCUS, India juga melihat peluang besar dari biomassa. Dengan basis pertanian yang luas, limbah biomassa bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk menggantikan batu bara.
"Ada peluang bagaimana biomassa pertanian dimanfaatkan karena ini India merupakan negara pertanian yang besar. Kami juga belajar teknologi dari negara-negara Eropa, terutama Inggris," kata Kannan.
Baca juga: Tangkap dan Simpan Emisi CO2 di Bawah Tanah? Riset Ungkap Cuma Bisa Dilakukan 200 Tahun
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya