Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kembangkan Kapasitas PLTN, Asia Tenggara Perlu Investasi 208 Miliar Dollar AS

Kompas.com, 16 September 2025, 16:51 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis terbaru dari konsultan energi Wood Mackenzie menunjukkan bahwa untuk mengembangkan 25 gigawatt (GW) kapasitas energi nuklir pada tahun 2050, Asia Tenggara akan membutuhkan investasi sekitar 208 miliar dolar AS.

Reaktor modular kecil (SMR) juga disebut-sebut sebagai pilihan yang paling disukai untuk pengembangan energi nuklir meskipun berbiaya besar.

Laporan yang berjudul What if Southeast Asia goes nuclear? ini menandai perubahan besar dari proyeksi dasar Wood Mackenzie sebelumnya, yang memperkirakan tidak akan ada penambahan kapasitas nuklir di kawasan itu hingga tahun 2050.

Saat ini, tidak ada negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir, dan sebagian besar masih sangat bergantung pada batu bara dan gas alam untuk pasokan listrik beban dasar (baseload electricity).

Baca juga: Limbah Nuklir Berpotensi Jadi Sumber Bahan Bakar Reaktor Masa Depan

"Tenaga nuklir menawarkan sebuah proposisi yang menarik bagi pemerintah di Asia Tenggara di mana listrik beban dasar tanpa emisi yang dapat dibangun tanpa peningkatan jaringan listrik yang besar," kata Robert Liew, direktur riset energi terbarukan Asia Pasifik di Wood Mackenzie.

"Namun, pengalaman operasional wilayah yang terbatas menimbulkan risiko signifikan seputar penolakan politik, pembengkakan biaya, dan keamanan pasokan bahan bakar uranium jangka panjang," paparnya, dikutip dari Down to Earth, Senin (15/9/2025).

Studi juga menekankan bahwa reaktor modular kecil (SMR) diperkirakan akan mendominasi lanskap nuklir di kawasan ini.

Hal ini terjadi meskipun perkiraan biaya pembangkitan listriknya mencapai 220 dolar AS per megawatt-jam (MWh) pada tahun 2050, yang lebih dari dua kali lipat dari perkiraan biaya 101 / MWh dolar AS untuk reaktor nuklir konvensional berskala besar.

"Terlepas dari persyaratan modal awal, SMR menawarkan keuntungan signifikan dalam hal kecepatan penerapan dan kompleksitas regulasi," ujar Liew.

"Secara historis, perizinan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir besar membutuhkan waktu lima hingga 15 tahun, dengan konstruksi yang membutuhkan waktu lima hingga 15 tahun lagi," tambahnya.

Sebaliknya, SMR dapat beralih dari persetujuan hingga operasi hanya dalam dua hingga tiga tahun jika kebijakan pendukung sudah tersedia. Jangka waktu yang cepat ini dapat menjadi transformatif bagi pasar seperti Asia Tenggara, di mana permintaan akan transisi energi yang lebih cepat semakin meningkat.

Baca juga: Korsel Genjot Kapasitas Nuklir, Diprediksi Jadi 29,8 GW pada 2035

Vietnam akan menjadi yang terdepan dalam pengembangan nuklir di kawasan ini, dengan rencana untuk memulai peluncuran paling cepat tahun 2030 dan meningkatkannya hingga antara 10,5 GW dan 14 GW pada tahun 2050, menurut analisis tersebut.

Sementara laporan mengungkapkan pula rencana nasional Indonesia yakni RUPTL Indonesia 2025–2034 mencakup dua SMR (Surya Makmur) berkapasitas 250 MW, yang menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir sebesar 5 persen pada tahun 2040.

Liew menambahkan lagi meskipun nuklir menawarkan jalur yang jelas menuju pengurangan emisi dan ketahanan energi, kebutuhan investasi yang substansial dan risiko teknologinya memerlukan pertimbangan yang cermat oleh para pembuat kebijakan dan investor regional.

“Keberhasilan impian nuklir di kawasan Asia Tenggara akan bergantung pada pengembangan kerangka regulasi yang tepat dan pengamanan mitra internasional yang berpengalaman,” ungkap Liew.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau