KOMPAS.com – Limbah jerami padi yang selama ini hanya dibakar atau digunakan sebagai pakan ternak, kini bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui program Dosen Pulang Kampung Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University, tim dosen memperkenalkan cara mengolah jerami padi menjadi bio-pot kepada masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Program yang berlangsung pada Kamis (27/6/2025) ini dipimpin oleh Dr Siti Nikmatin dari Departemen Fisika IPB.
Ia menjelaskan bahwa limbah jerami dapat diolah menjadi geotekstil, yakni lembaran material dari serat biomassa yang tersusun acak, memiliki pori-pori, serta bersifat tembus air dan cahaya. Dari geotekstil inilah, salah satu produk turunan yang dapat dibuat adalah bio-pot.
“Selama ini limbah damen (jerami padi) digunakan untuk pakan sapi, atau dibakar. Dengan pengolahan ini, jerami bisa dimanfaatkan kembali menjadi produk yang lebih bermanfaat,” kata Siti.
Melalui program Dosen Pulang Kampung Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University, tim dosen memperkenalkan cara mengolah jerami padi menjadi bio-pot kepada masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.Menurutnya, keunggulan bio-pot dibandingkan polybag atau pot plastik terletak pada sifatnya yang biodegradable. Artinya, bio-pot dapat terurai secara alami dan berfungsi sebagai pupuk tambahan sehingga petani tidak perlu repot mengganti media tanam maupun membuang polybag plastik.
Selain memberikan pelatihan, tim dosen IPB juga menghadirkan peralatan pendukung pembuatan geotekstil, seperti mesin pengurai jerami, kompresor, mesin penyemprot, hingga mesin pemotong.
“Bio-pot ini menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah jerami padi di Desa Sidorejo. Saat panen, jerami melimpah, tapi sebagian besar dibakar dan hanya sedikit untuk pakan ternak. Dengan adanya bio-pot, masyarakat bisa memanfaatkan jerami lebih baik, baik untuk dijual maupun dipakai sendiri,” ujar Siti.
Selain memberikan pelatihan, tim dosen IPB juga menghadirkan peralatan pendukung pembuatan geotekstil, seperti mesin pengurai jerami, kompresor, mesin penyemprot, hingga mesin pemotong.Program tersebut mendapat sambutan hangat dari warga. Ketua kelompok tani Karya Tani M Islah menyebut bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi petani.
“Kami sangat berterima kasih kepada IPB karena mengajarkan sesuatu yang baru. Dengan pembuatan pot ini, kami bisa menanam tanpa membeli polybag atau pot. Harapan kami, kegiatan semacam ini terus dilakukan,” kata Islah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya