KOMPAS.com - Terusan Panama menjadi jalur air vital yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik.
Untuk pengoperasiannya jalur ini sangat bergantung pada air tawar yang dipasok oleh waduk.
Air tawar digunakan untuk menaikkan dan menurunkan kunci air (locks) yang memungkinkan ribuan kapal melintas setiap tahun.
Namun ada permasalahan.
Melansir Phys, Kamis (25/9/2025) sebuah makalah baru yang ditulis oleh profesor Northeastern University, Samuel Munoz, melaporkan bahwa risiko gangguan pelayaran dan pengiriman yang melalui terusan Panama akan meningkat seiring dengan pemanasan iklim.
Itu semua akan terjadi kecuali jika langkah-langkah diambil untuk mengurangi emisi gas rumah kaca atau untuk beradaptasi dengan kondisi yang lebih kering.
Baca juga: Perubahan Iklim Pangkas PDB Per Kapita Global Hingga 24 Persen pada 2100
"Terusan ini rentan terhadap kekeringan. Kerentanan itu meningkat seiring dengan perubahan iklim," kata Munoz.
"Pemodelan memprediksi bahwa semakin kita memanaskan keadaan, kekeringan ini akan menjadi makin parah dan makin sering terjadi di Panama," terangnya lagi.
Munoz mengatakan dalam penelitian yang diterbitkan di Geophysical Research Letters bahwa temuan ini menggarisbawahi perlunya menangani risiko yang semakin besar terhadap mata rantai utama dalam rantai pasokan global.
Hal ini harus dilakukan melalui "adaptasi atau mitigasi yang proaktif" demi mempertahankan fungsi terusan.
Dalam penelitiannya, Munoz menggunakan proyeksi iklim beresolusi tinggi untuk menyimulasikan level masa depan dari waduk penyalur air yakni Danau Gatun.
Munoz menyimpulkan bahwa penurunan level air yang dapat mengganggu pelayaran menjadi lebih umum di bawah skenario emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi dan tinggi, tetapi tidak muncul pada skenario emisi rendah.
Hal ini terjadi karena Danau Gatun utamanya dialiri oleh air hujan. Skenario emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan curah hujan selama musim basah dan peningkatan penguapan.
Setiap kali sebuah kapal lewat, kapal menggunakan banyak air. Air ini digunakan untuk mengisi kunci air (locks) guna menaikkan dan menurunkan kapal saat mereka melintasi batas pemisah benua (continental divide).
Baca juga: Perdagangan Global Picu Kenaikan Emisi Metana yang Berbahaya
"Ketika terjadi kekeringan, hal utama yang dapat mereka lakukan pada dasarnya adalah mengurangi jumlah kapal yang melintas." terang Munoz.
Kekeringan baru-baru ini, termasuk yang terjadi pada tahun 2023 dan 2024, menyebabkan operator terusan harus mengurangi berat dan jumlah kapal yang menyeberangi jalur air sepanjang 50 mil tersebut.
Bagi perdagangan global dan AS, masa depan Terusan Panama adalah hal yang sangat penting.
Rata-rata 14.000 kapal melintasi terusan tersebut setiap tahun, termasuk 40 persen dari kapal kontainer AS.
"Jika kita tidak akan mengurangi emisi, maka langkah-langkah adaptasi yang signifikan diperlukan agar terusan ini tetap berfungsi," kata Munoz.
Otoritas di Panama sendiri kini berfokus berencana membangun waduk tambahan untuk melengkapi Danau Gatun.
Mereka juga berupaya menemukan metode untuk memanfaatkan persediaan air yang ada secara lebih efisien.
Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Rugikan Produktivitas Global Hingga 1,5 Triliun Dolar AS
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya