Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bali Krisis, KLH dan Pemprov Susun Perencanaan Lanskap Pasca Banjir

Kompas.com, 26 September 2025, 13:43 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sedang menyusun kembali kajian lingkungan hidup strategis sebagai acuan dalam menyusun lanskap tata ruang.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq di Denpasar, Bali, Jumat (26/9/2025), mengatakan dengan nantinya lahir hasil kajian atas evaluasi sebelumnya maka ada pola yang dapat menjadi pondasi.

“Diperlukan langkah-langkah detail, kajian-kajian mendalam yang hari ini sedang disusun Pemprov Bali dengan seluruh kabupaten/kota di bawahnya bersama Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Hanif.

Ia menambahkan, dengan demikian dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua (para pihak) memiliki pola dasar untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan lanskap Bali di dalam rangka menghadapi krisis global ini.

Proses evaluasi terhadap kajian lingkungan strategis awalnya sudah dimulai sejak banjir besar melanda Bali pada Rabu (10/9/2025) lalu.

Nantinya ketika rampung, hasil kajian baru akan dituangkan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan.

“Kita tidak boleh tanpa dokumen perencanaan pembangunan, nanti ada yang disebut dengan akuntabilitas, setiap rupiah yang kita keluarkan, baik dari APBN, APBD, maupun dukungan mitra itu ada rencana yang harus disusun,” ujar Hanif seperti dikutip Antara.

Kejadian banjir besar sendiri diakuinya sebagai faktor alam hujan ekstrem yang muncul karena perubahan iklim, bahkan dalam satu hari rata-rata curah hujan dari hulu ke hilir mencapai 245,75 mm per detik.

Baca juga: Menuju Net-Zero: KLH Tekankan Pentingnya Integritas Data Karbon

Menteri LH mengajak masyarakat Bali mengambil kejadian itu sebagai tantangan alam yang harus diselesaikan.

Lanskap Bali sendiri dengan luasan daerah aliran sungai (DAS) 49 ribu hektare hanya 1.500 hektare yang tertutupi pohon, sehingga kurang dari 30 persen luasan yang tertutupi.

“Ini yang kemudian oleh gubernur sedang dikaji dengan detail bersama kami, pak gubernur tadi minta kami mengundang para menteri untuk hadir kembali ke sini, karena tidak hanya kegiatan rehabilitasi dan reboisasi, tetapi ada pembangunan teknik sipil yang juga akan mengendalikan,” ujar Hanif.

Berkaca dari banjir besar, perumusan kajian lingkungan ini tidak dibatasi pada upaya menjaga tutupan hutan, namun juga perbaikan drainase, sungai, dan penanganan sampah.

Seperti contohnya jika ingin memperbaiki DAS di perkotaan sementara alirannya sudah padat pembangunan, maka ada kementerian/lembaga lain yang bisa membantu Pemprov Bali.

“Ada menteri-menteri lain yang berkewenangan untuk mengatur sepadan sungai, ini kemudian yang harus kita sepakati, kalau memang diperlukan penertiban apa boleh buat ini untuk kemaslahatan semua masyarakat Bali tanpa pandang bulu,” kata Hanif.

Ia mengingatkan bahwa langkah-langkah KLH dan Pemprov Bali hari ini adalah demi generasi mendatang, sehingga bencana banjir besar dijadikan pembelajaran untuk perbaikan ke depan.

Baca juga: Karhutla, KLH Awasi Praktik 38 Perusahaan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Pemerintah
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
LSM/Figur
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Pemerintah
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Pemerintah
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Pemerintah
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau