KOMPAS.com - Polusi mikroplastik pada tanah menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan tanah karena dapat merusak komunitas mikroba penting dan mengurangi hasil panen.
Ini menjadi peringatan yang serius mengingat lebih dari 90 persen limbah plastik berakhir di tanah, di mana limbah tersebut kemudian akan terurai mikroplastik yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Dan kini, sebuah studi baru kembali mengungkap keberadaan plastik berukuran kecil itu juga dapat memperburuk perubahan iklim dengan meningkatkan produksi gas rumah kaca.
Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology.
Melansir Phys, Rabu (1/10/2025) riset-riset terdahulu umumnya mengkaji satu jenis plastik dan pengaruhnya terhadap siklus hara dan fungsi tanah, padahal mikroplastik dalam lingkungan jarang ditemukan sendirian.
Baca juga: Ecoton Ungkap Mikroplastik Kiriman Ancam Kesehatan Bayi di Jawa Timur
Karena alasan ini, Yi-Fei Wang dan Dong Zhu dari Chinese Academy of Sciences beserta timnya memilih untuk meneliti dampak kumulatif dari berbagai macam plastik terhadap tanah, khususnya fungsi utama tanah seperti siklus nitrogen.
Untuk mengukur tingkat masalahnya, tim peneliti mengadakan eksperimen tertutup skala kecil di lab. Mereka mencampurkan sampel tanah dengan enam tipe plastik termasuk PET dan PVC.
Mereka membagi sampel menjadi empat kelompok dengan konsentrasi plastik berbeda, mulai dari kelompok yang bebas plastik hingga kelompok yang mengandung lima jenis plastik.
Setelah 40 hari masa inkubasi, tanah dikumpulkan untuk serangkaian tes.
Tes mencakup pengukuran karakteristik tanah seperti keasaman dan fungsi enzim utama dan analisis sekuens DNA untuk menentukan jenis bakteri serta gen yang bertanggung jawab atas fungsi tertentu.
Analisis tim kemudian menunjukkan bahwa semakin beragam jenis mikroplastik, semakin besar perubahan yang terjadi pada kesehatan tanah.
Baca juga: Kandungan Mikroplastik Seafood Sekarang Bisa Dianalisis, Ilmuwan Temukan Caranya
Misalnya, campuran plastik tersebut terbukti menaikkan tingkat pH tanah secara drastis membuat tanah lebih bersifat basa dan menambah kadar karbon dalam tanah.
Salah satu penemuan paling krusial adalah bahwa keberagaman jenis mikroplastik mendorong peningkatan aktivitas gen bakteri yang berperan dalam denitrifikasi.
Proses denitrifikasi ini mengubah hara tanaman menjadi gas nitrogen yang terlepas ke udara.
Dampaknya ganda yakni kesuburan tanah menurun, dan terjadi pelepasan dinitrogen oksida (N2O), gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 300 kali lipat lebih besar dari CO2.
Famili bakteri Rhodocyclaceae diidentifikasi sebagai pemicu utama percepatan hilangnya nitrogen ini.
"Hasil studi kami memperluas pemahaman mengenai dampak ekologis dari pencemaran mikroplastik terhadap kesuburan tanah dan siklus nutrisi," tulis peneliti dalam makalahnya.
"Lebih dari itu, temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan variasi jenis mikroplastik dalam kebijakan pengelolaan tanah untuk mengurangi kehilangan nitrogen dan melindungi fungsi-fungsi vital ekosistem tanah," tambah mereka.
Baca juga: WAHU Hub Diresmikan, Warga Bisa Tukar Sampah Plastik Jadi Uang
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya