Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Burung Dunia Menyusut 61 Persen, Krisis Sudah di Depan Mata

Kompas.com, 13 Oktober 2025, 19:32 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Penilaian global terbaru menunjukkan bahwa populasi lebih dari separuh (61 persen) spesies burung di dunia sedang menyusut. Pembalakan hutan disebut sebagai penyebab utama penurunan tajam populasi burung di berbagai belahan Bumi.

Spesies burung mulai dari asity Schlegel di Madagaskar hingga northern nightingale-wren di Amerika Tengah telah kehilangan tempat tinggal karena perluasan lahan pertanian dan pembangunan yang dilakukan manusia.

Hanya dalam waktu sembilan tahun, persentase spesies burung yang populasinya menurun telah melonjak dari 44 persen menjadi 61 persen. Angka 44 persen tersebut dicatat dalam Daftar Merah spesies terancam punah milik IUCN.

“Penemuan bahwa tiga dari setiap lima spesies burung di dunia mengalami penurunan populasi adalah cerminan seberapa parah krisis keanekaragaman hayati saat ini. Hal ini menegaskan betapa mendesaknya bagi setiap pemerintah untuk segera melaksanakan semua langkah yang telah mereka sepakati dalam berbagai konvensi dan perjanjian internasional,” ungkap Dr Ian Burfield, koordinator sains global BirdLife dan salah satu pengawas penilaian ini.

Para ilmuwan pun menyerukan agar pemerintah segera mewujudkan komitmen untuk perlindungan alam yang lebih efektif.

Melansir Guardian, Jumat (10/10/2025), burung memiliki fungsi ekologis yang vital, yaitu membantu penyerbukan, menyebarkan benih, dan mengontrol populasi hama.

Baca juga: Perdagangan Puluhan Burung Junai Emas Dibongkar, Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara

Sebagai contoh, burung rangkong yang tersebar di kawasan tropis mampu menyebarkan hingga 12.700 benih berukuran besar setiap harinya dalam area satu kilometer persegi.

"Nasib pohon dan burung adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Pohon memerlukan burung untuk membantu proses regenerasi, sementara burung bergantung sepenuhnya pada keberadaan pohon demi kelangsungan hidup mereka," terang Dr Malin Rivers dari Botanic Gardens Conservation International.

Nasib serupa juga dialami anjing laut Arktik, yang menurut para ilmuwan semakin terancam punah akibat pemanasan global. Populasi anjing laut berjanggut dan harpa telah menyusut drastis akibat hilangnya es laut.

Menipisnya es laut mempersulit anjing laut Arktik untuk menemukan tempat yang aman untuk beristirahat dan berkembang biak. Anjing laut ini adalah mangsa utama bagi beruang kutub, sehingga para peneliti khawatir hilangnya anjing laut juga akan memberikan dampak buruk bagi beruang kutub.

“Berkurangnya es laut di Svalbard setiap tahun menjadi bukti nyata betapa parahnya ancaman terhadap anjing laut Arktik, karena habitat mereka untuk makan, beristirahat, dan berkembang biak semakin berkurang," kata Dr Kit Kovacs dari Norwegian Polar Institute.

"Kondisi ini adalah pengingat bahwa perubahan iklim bukanlah isu masa depan, melainkan masalah yang sudah terjadi selama puluhan tahun dan dampaknya kita rasakan saat ini juga," tambahnya.

Baca juga: Panas Ekstrem Membunuh Burung Tropis, Bikin Populasinya Anjlok

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau