Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panel Surya Terapung Menjanjikan, tapi Dampak Lingkungannya Dipertanyakan

Kompas.com, 19 November 2025, 18:05 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Panel surya terapung muncul sebagai solusi energi bersih yang menjanjikan. Tetapi sebuah studi baru yang diterbitkan di Limnologica menemukan bahwa dampak lingkungan dari panel surya terapung masih dipertanyakan.

Dampak lingkungannya, menurut studi bervariasi tergantung di mana sistem tersebut diterapkan.

"Tiap waduk akan merespons secara berbeda berdasarkan faktor-faktor seperti kedalaman, dinamika sirkulasi, dan spesies ikan. Tidak ada formula yang cocok untuk semua dalam merancang sistem karena ini masalah ekologi," terang Evan Bredeweg, penulis utama studi.

Simulasi menunjukkan bahwa sistem panel surya terapung memang memiliki efek pendinginan pada air waduk. Namun, efek ini tidak sepenuhnya positif bagi ekosistem.

Hasil ini didapat setelah peneliti dari Oregon State University dan U.S. Geological Survey memodelkan dampak sistem fotovoltaik surya terapung pada 11 waduk di enam negara bagian Amerika Serikat.

Baca juga: Bawang Merah Jadi Bahan Berkelanjutan untuk Proteksi Panel Surya

Melansir Phys, Selasa (18/11/2025), panel surya terapung menawarkan beberapa keuntungan. Efek pendinginan air dapat meningkatkan efisiensi panel sekitar 5–15 persen.

Sistem ini juga dapat diintegrasikan dengan infrastruktur hidroelektrik dan transmisi yang ada. Sistem ini juga dapat membantu mengurangi penguapan, yang sangat berharga di iklim yang lebih hangat dan kering.

Namun, di balik manfaatnya ada pertanyaan mengenai dampaknya terhadap ekosistem perairan.

"Memahami risiko lingkungan dan variabilitas respons ekologis terhadap penerapan fotovoltaik terapung sangat penting untuk memberikan informasi kepada badan pengatur dan memandu pengembangan energi berkelanjutan," kata Bredeweg.

Studi baru ini menggunakan teknik pemodelan canggih untuk menilai implikasi pemasangan panel surya terapung di seluruh waduk.

Baca juga: Pabrik Panel Surya Terbesar di Indonesia Bakal Produksi 1,4 Juta Lembar Per Tahun

Para peneliti memeriksa waduk di Oregon, Ohio, Washington, Idaho, Tennessee, dan Arkansas, menganalisis periode dua bulan di musim panas dan musim dingin.

Mereka menemukan bahwa perubahan suhu dan dinamika oksigen yang disebabkan oleh panel surya terapung dapat memengaruhi ketersediaan habitat bagi spesies ikan air hangat dan air dingin.

Misalnya, suhu air yang lebih dingin di musim panas umumnya menguntungkan spesies air dingin, meskipun efek ini paling terasa ketika cakupan panel melebihi 50 persen.

Para peneliti mencatat perlunya penelitian berkelanjutan dan pemantauan jangka panjang untuk memastikan sistem fotovoltaik terapung mendukung tujuan energi bersih tanpa mengorbankan ekosistem perairan.

"Sejarah telah menunjukkan bahwa modifikasi skala besar pada ekosistem air tawar, seperti bendungan hidroelektrik, dapat menimbulkan konsekuensi yang tak terduga dan berkepanjangan," tambah Bredeweg.

Baca juga: Greenpeace: Komitmen Iklim Anggota G20 Tak Ambisius

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau