KOMPAS.com - Tak semua yang tampak "mewah" benar-benar mencerminkan kemapanan. Syah Deva Ammurabi memahami betul bagaimana prasangka 'alamat elit' bisa menutup pintu harapannya untuk masa depan yang penuh peluang.
Tinggal di rumah warisan kakek-neneknya yang lokasinya sangat strategis di pusat kota Jakarta, Deva terlanjur merasa tidak pantas untuk mengajukan beasiswa Bidikmisi.
Dan, tekad mencari beasiswa lain itu membawanya ke program Teladan Tanoto Foundation, yang kelak menjadi titik balik dalam hidup dan karirnya sebagai lulusan jurusan ilmu tanah IPB University.
Orang tua Deva telah bercerai, di mana sang ayah berprofesi sebagai seniman teater dengan berpenghasilan yang tak menentu, sedangkan ibu dalam kondisi sakit. Biaya kuliah Deva ditanggung bibinya yang seorang pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu kementerian.
"Tentu yang budenya PNS enggak mungkin dong dapat Bidikmisi karena memang penghasilannya kan mencukupi ya. Posisi rumah juga enggak memungkinkan untuk memenuhi syarat-syarat Bidikmisi. Makanya, saya daftar beasiswa-beasiswa lain yang tidak mensyaratkan penghasilan, tapi prestasi. Beasiswa Teladan Tanoto Foundation waktu itu jadi pilihan gua," ujar Deva di rumahnya, Depok, Senin (3/11/2025).
Baca juga: Sekolah di Sumut Didorong Naik Kelas, Tanoto Foundation Bekali Guru dan Kepala Sekolah
Ia menerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation pada 2015, hampir setahun usai budenya pensiun.
Tak hanya terbantu secara finansial, Deva mengaku memperoleh manfaat dari program-program beasiswa Teladan Tanoto Foundation, khususnya yang memfasilitasi peserta untuk berkontribusi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Ia juga mengikuti pelatihan kepenulisan dan semacam proyek karya tulis ilmiah dari beasiswa Teladan Tanoto Foundation yang menjadi bekal baginya selama menjadi mahasiswa maupun pasca lulus kuliah.
Setelahnya, Deva merasa termotivasi untuk terus mengembangkan diri usai menyadari posisinya yang berada di lingkungan mahasiswa-mahasiswa berprestasi.
Ia terdorong untuk menekuni 'dunia tulis menulis', sampai aktif berorganisasi dan berpartisipasi dalam berbagai perlombaan agar bisa sejajar atau lebih unggul dari rekan-rekan penerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation lainnya.
Meski tak selalu menang, Deva tetap bangga dengan sejumlah pencapaiannya. Di antaranya, proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) didanai, karya tulis ilmiahnya mengantarkannya ke Taiwan dan mendapatkan penghargaan sebagai best oral presentation, hingga artikel opininya tentang independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tembus ke koran nasional.
"Dengan adanya beasiswa (Teladan) dari Tanoto Foundation itu, kepercayaan diri saya tumbuh, bisa menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa. Jadi, tidak hanya sekadar kuliah saja," tutur Deva.
Baca juga: Pendidikan dan Digitalisasi Jadi Motor Pembangunan Manusia di Kalimantan Tengah
Demikian pula pasca-lulus kuliah, Deva mampu beradaptasi dengan segala situasi, termasuk dinamika pasar lapangan kerja. Ia mengawali karirnya dengan terlibat dalam proyek dosennya sebagai surveyor yang mengambil sampel di perkebunan tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk kemudian diukur kesuburan tanahnya.
Ia sempat melamar pekerjaan ke PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), yang sudah pada tahap interview dan penawaran gaji. Namun, takdir membawanya ke arah yang berbeda, Deva membatalkannya karena budenya meninggal dunia.
Ia menjadi surveyor paruh waktu di lembaga penelitian pemasaran, sebelum berkarir sebagai jurnalis ekonomi. Ketika pandemi Covid-19 menghantam industri media, Deva lolos tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan mengurus pupuk di Kementerian Pertanian.
"Ketika menjadi jurnalis hanya berperan sebagai pengamat, tapi saat masuk ke pemerintahan, gua menjadi pelaku. Keduanya bisa berdampak ke masyarakat lebih luas. Gua menikmati menjadi pengamat dan pelaku yang bersentuhan langsung dengan suatu kebijakan pemerintah," ucapnya.
Syah Deva Ammurabi mengikuti Tanoto Scholar Gathering ke kantor APRIL Group di Riau pada 2016 lalu.Lain alumni penerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation, lain pula ceritanya. Yuanda Pangi Harahap mengaku mengembangkan berbagai keterampilan non-akademik (soft skill), seperti public speaking dan leadership dari mengikuti program-program beasiswa Teladan Tanoto Foundation.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya