Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beasiswa Teladan Cetak Lulusan Berpola Pikir Berkelanjutan dan Adaptif Terhadap Ketidakpastian Global

Kompas.com, 24 November 2025, 08:29 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tak semua yang tampak "mewah" benar-benar mencerminkan kemapanan. Syah Deva Ammurabi memahami betul bagaimana prasangka 'alamat elit' bisa menutup pintu harapannya untuk masa depan yang penuh peluang.

Tinggal di rumah warisan kakek-neneknya yang lokasinya sangat strategis di pusat kota Jakarta, Deva terlanjur merasa tidak pantas untuk mengajukan beasiswa Bidikmisi.

Dan, tekad mencari beasiswa lain itu membawanya ke program Teladan Tanoto Foundation, yang kelak menjadi titik balik dalam hidup dan karirnya sebagai lulusan jurusan ilmu tanah IPB University.

Orang tua Deva telah bercerai, di mana sang ayah berprofesi sebagai seniman teater dengan berpenghasilan yang tak menentu, sedangkan  ibu dalam kondisi sakit. Biaya kuliah Deva ditanggung bibinya yang seorang pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu kementerian.

"Tentu yang budenya PNS enggak mungkin dong dapat Bidikmisi karena memang penghasilannya kan mencukupi ya. Posisi rumah juga enggak memungkinkan untuk memenuhi syarat-syarat Bidikmisi. Makanya, saya daftar beasiswa-beasiswa lain yang tidak mensyaratkan penghasilan, tapi prestasi. Beasiswa Teladan Tanoto Foundation waktu itu jadi pilihan gua," ujar Deva di rumahnya, Depok, Senin (3/11/2025).

Baca juga: Sekolah di Sumut Didorong Naik Kelas, Tanoto Foundation Bekali Guru dan Kepala Sekolah

Ia menerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation pada 2015, hampir setahun usai budenya pensiun.

Tak Sekedar Beasiswa

Tak hanya terbantu secara finansial, Deva mengaku memperoleh manfaat dari program-program beasiswa Teladan Tanoto Foundation, khususnya yang memfasilitasi peserta untuk berkontribusi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Ia juga mengikuti pelatihan kepenulisan dan semacam proyek karya tulis ilmiah dari beasiswa Teladan Tanoto Foundation yang menjadi bekal baginya selama menjadi mahasiswa maupun pasca lulus kuliah.

Setelahnya, Deva merasa termotivasi untuk terus mengembangkan diri usai menyadari posisinya yang berada di lingkungan mahasiswa-mahasiswa berprestasi.

Ia terdorong untuk menekuni 'dunia tulis menulis', sampai aktif berorganisasi dan berpartisipasi dalam berbagai perlombaan agar bisa sejajar atau lebih unggul dari rekan-rekan penerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation lainnya.

Meski tak selalu menang, Deva tetap bangga dengan sejumlah pencapaiannya. Di antaranya, proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) didanai, karya tulis ilmiahnya mengantarkannya ke Taiwan dan mendapatkan penghargaan sebagai best oral presentation, hingga artikel opininya tentang independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tembus ke koran nasional.

"Dengan adanya beasiswa (Teladan) dari Tanoto Foundation itu, kepercayaan diri saya tumbuh, bisa menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa. Jadi, tidak hanya sekadar kuliah saja," tutur Deva.

Baca juga: Pendidikan dan Digitalisasi Jadi Motor Pembangunan Manusia di Kalimantan Tengah

Demikian pula pasca-lulus kuliah, Deva mampu beradaptasi dengan segala situasi, termasuk dinamika pasar lapangan kerja. Ia mengawali karirnya dengan terlibat dalam proyek dosennya sebagai surveyor yang mengambil sampel di perkebunan tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk kemudian diukur kesuburan tanahnya.

Ia sempat melamar pekerjaan ke PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), yang sudah pada tahap interview dan penawaran gaji. Namun, takdir membawanya ke arah yang berbeda, Deva membatalkannya karena budenya meninggal dunia.

Ia menjadi surveyor paruh waktu di lembaga penelitian pemasaran, sebelum berkarir sebagai jurnalis ekonomi. Ketika pandemi Covid-19 menghantam industri media, Deva lolos tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan mengurus pupuk di Kementerian Pertanian.

"Ketika menjadi jurnalis hanya berperan sebagai pengamat, tapi saat masuk ke pemerintahan, gua menjadi pelaku. Keduanya bisa berdampak ke masyarakat lebih luas. Gua menikmati menjadi pengamat dan pelaku yang bersentuhan langsung dengan suatu kebijakan pemerintah," ucapnya.

Syah Deva Ammurabi mengikuti Tanoto Scholar Gathering ke kantor APRIL Group di Riau pada 2016 lalu.Koleksi Syah Deva Ammurabi Syah Deva Ammurabi mengikuti Tanoto Scholar Gathering ke kantor APRIL Group di Riau pada 2016 lalu.

Lain alumni penerima beasiswa Teladan Tanoto Foundation, lain pula ceritanya. Yuanda Pangi Harahap mengaku mengembangkan berbagai keterampilan non-akademik (soft skill), seperti public speaking dan leadership dari mengikuti program-program beasiswa Teladan Tanoto Foundation.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
LSM/Figur
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
LSM/Figur
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
LSM/Figur
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau