KOMPAS.com – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Sumatera Utara (Sumut) terus digulirkan Tanoto Foundation.
Lembaga filantropi itu mendampingi sekolah-sekolah melalui beragam program, mulai dari pelatihan guru, penguatan sistem monitoring, hingga penyusunan roadmap sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Salah satu contohnya terlihat di RGM Besitang, Kabupaten Langkat. Program di sekolah tersebut berfokus pada manajemen sekolah.
“Kami memberikan pelatihan untuk guru agar mereka bisa menerapkan pembelajaran aktif, kemudian bagaimana mereka punya sistem monitoring di antara gurunya, kepala sekolahnya juga punya output-output tahunan yang bisa dia langsung pakai untuk mengambil keputusan," ujar Feliani, salah satu dari sembilan orang angkatan pertama Tanoto Foundation Fellowship Program.
Menurut Feliani, Fellowship Program bukan sekadar mendampingi guru. Program ini juga mendorong terciptanya roadmap berisi poin-poin penting untuk akreditasi berkelanjutan, mulai dari penanaman nilai, penyediaan layanan, hingga terciptanya lingkungan belajar yang lebih mendukung bagi siswa.
Tanoto Foundation saat ini menjangkau sekolah-sekolah di Kabupaten Langkat, Batubara, Karo, dan Asahan. Fokus utama pendampingan ada pada literasi dan numerasi di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD) di beberapa wilayah, seperti Besitang.
Kerja sama dengan dinas pendidikan setempat memungkinkan Tanoto Foundation untuk masuk ke hampir semua sekolah negeri di daerah-daerah tersebut. Dengan cara ini, program diharapkan bisa memberi dampak yang lebih luas sekaligus berkelanjutan.
Seiring berjalannya program, Tanoto Foundation juga membuka Fellowship Program angkatan kedua. Sepuluh anak muda terpilih akan ditempatkan di daerah untuk mendampingi sekolah sekaligus menghidupkan energi baru dalam pengelolaan pendidikan.
Baca juga: Pasar Modal Salurkan Bantuan Infrastruktur, Kesehatan, dan Pendidikan di Aceh
Country Head Tanoto Foundation Indonesia, Inge Kusuma, menegaskan bahwa Fellowship Program dirancang untuk mendukung percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas.
"Apapun yang kami desain pada saat membuat program yang banyak seperti ini, dari mulai pendidikan anak usia dini, stunting, pendidikan dasar, beasiswa, pelatihan kepemimpinan, sampai kepemimpinan masa depan itu harus dikaitkan dengan SDGs," ujar Inge.
Ia menambahkan, prinsip Fellowship Program angkatan kedua tidak banyak berbeda dengan sebelumnya, hanya ada beberapa perbaikan teknis terkait manajemen waktu dan penugasan yang lebih nyata.
"Kami akan melihat nanti studi dampak dari program ini, baru kalau dilihat sangat signifikan hasilnya, kami akan merekrut yang lebih banyak, bukan lagi pilot batch (angkatan) satu dan (angkatan) dua," tutur Inge.
Head of Leadership Development and Scholarship Tanoto Foundation, Yosea Kurnianto, menambahkan bahwa dampak jangka panjang dari program ini adalah pengembangan sumber daya manusia.
"Kami mengukur perkembangan kompetensi, bagaimana semua efisiensi, kolaborasi, kemudian didorong oleh tujuan dan sebagainya. Kami berharap dari pertama dia masuk sampai satu tahun kompetensinya bertambah," ucapnya.
Selain mendampingi sekolah, para peserta Fellowship Program juga dituntut menghadirkan portofolio inovatif selama masa penugasan. Mereka diharapkan bisa membawa ide-ide segar, sekaligus menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan di daerah.
Baca juga: Dari Kesehatan hingga Pendidikan, Begini Cara April Group Dukung Kesejahteraan Anak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya