Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut Mobil Murah Jauh Lebih Berpolusi

Kompas.com, 23 November 2025, 13:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Para ilmuwan menemukan bahwa mobil penumpang yang lebih murah seringkali mengeluarkan lebih banyak gas buang beracun daripada model yang lebih mahal.

Studi ini pun memperlihatkan hubungan antara anggaran pribadi dengan kualitas udara lokal secara langsung.

Kesimpulan studi didapat setelah mereka menggunakan data lebih dari 50.000 pengukuran di jalan raya dan melacak seberapa banyak polusi yang dilepaskan setiap mobil yang lewat.

Dalam studi yang dipimpin oleh Dr. Omid Ghaffarpasand, peneliti dampak emisi polutan kendaraan di University of Birmingham (UB) tersebut, tim menggunakan penginderaan jauh.

Itu merupakan sebuah cara untuk mengukur emisi dari mobil yang lewat tanpa menyentuh kendaraan tersebut. Sebuah perangkat berbasis laser juga di tempatkan di atas jalan dan merekam gas di setiap kepulan asap knalpot saat ribuan mobil melaju di bawahnya.

Baca juga: Bukan Cuma Ganggu Paru-paru, Polusi Udara Juga Bisa Picu Diabetes

Setiap mobil ditandai dengan standar emisi Euro, sebuah aturan Eropa yang menetapkan batas polusi legal untuk kendaraan baru.

Hasilnya, di antara model diesel, mobil di kisaran harga yang lebih tinggi mengeluarkan polusi nitrogen sekitar 40 persen lebih sedikit per unit bahan bakar dibandingkan kelompok termurah.

Di antara mobil diesel, kelompok termurah mengeluarkan polusi nitrogen sekitar 50 persen lebih banyak per unit bahan bakar dibandingkan model kelas menengah. Perbedaan tersebut tetap terlihat meskipun kendaraan yang lebih murah dan lebih mahal memiliki label emisi resmi yang sama.

Sementara, pada mobil bensin, harga yang lebih mahal memang cenderung menurunkan emisi, tetapi efeknya tidak signifikan dibandingkan dengan jenis polutan yang dihasilkan jenis mobil lain.

Sedangkan mobil hibrida menghasilkan polusi nitrogen di tingkat antara bensin dan diesel. Namun, kurangnya data mobil hibrida berarti hubungan antara harga dan polusi pada jenis kendaraan ini tidak dapat dipastikan oleh para peneliti.

Baca juga: Polusi Udara dari Bahan Bakar Fosil Sebabkan 2,52 Juta Kematian

Peneliti pun menyebut harga kendaraan bisa menjadi indikator kinerja emisi yang andal.

"Individu dari rumah tangga berpenghasilan rendah mungkin lebih cenderung memiliki kendaraan yang lebih tua, lebih murah, dan beremisi lebih tinggi," tulis studi itu, dikutip dari Earth, Kamis (21/11/2025).

Temuan ini pun menyoroti perlunya intervensi kebijakan yang terarah untuk mengatasi ketidakadilan lingkungan.

Pasalnya, masyarakat dengan sumber daya yang lebih sedikit sering kali hidup dengan tingkat polusi yang lebih tinggi karena mobil yang lebih bersih masih jauh dari jangkauan.

Pengemudi berpenghasilan rendah lebih cenderung membeli mobil yang lebih tua dan lebih murah karena kendaraan tersebut secara realistis mampu mereka beli. Namun akhirnya menambah polusi di sekitar mereka.

Di banyak negara, lingkungan berpenghasilan rendah menghadapi paparan yang lebih tinggi terhadap nitrogen dioksida dan polusi partikel dari lalu lintas.

Studi ini dipublikasikan di Journal of Cleaner Production.

Baca juga: Pertemuan RI-Uni Eropa, Bahas Implementasi dan Dampak EUDR

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau